DAFTAR PEDOMAN TEKNIS BAHAN KONSTRUKSI BANGUNAN DAN REKAYASA SIPIL
DAFTAR PEDOMAN TEKNIS
BAHAN KONSTRUKSI BANGUNAN DAN REKAYASA SIPIL
|
Judul Standar |
Nomor Standar |
Ruang Lingkup |
Hal |
|
|
A. Umum |
|
|
||
|
1. Tanah |
|
|
||
|
1 |
Panduan geoteknik 1 : Proses pembentukan dan sifat-sifat dasar tanah lunak |
Pt T-08-2002-B |
Tanah lunak yang diuraikan pada panduan ini terdiri dari dua tipe, yang didasarkan atas bahan pembentuknya: · Tanah inorganik yang berasal dari pelapukan batuan yang diikuti oleh transportasi dan proses- proses lainnya. · Gambut yang berasal dari materi tumbuh- tumbuhan yang mengalami berbagai tingkat pembusukan (decomposition). |
160 |
|
2 |
Panduan geoteknik 2 : Penyelidikan tanah lunak desain dan pekerjaan lapangan |
Pt T-09-2002-B |
· Panduan ini tidak membahas pekerjaan struktur atau permasalahan yang berkaitan dengan perkerasan jalan pada tanah lunak. Tetapi beberapa petunjuk yang diberikan pada Panduan ini dan Panduan Geoteknik lainnya dapat pula dimanfaatkan untuk keperluan-keperluan tersebut. · Panduan ini membahas tentang Penyelidikan Lapangan untuk keperluan pekerjaan kegeoteknikan yang meliputi studi meja, peninjauan awal dan investigasi lapangan. Hal ini kadang juga dikenal dengan istilah ”Penyelidikan Tanah”. |
105 |
|
3 |
Panduan geoteknik 3 : Pengujian tanah lunak pengujian laboratorium |
Pt T-11-2002-B |
· Panduan ini membahas tentang pengujian- pengujian yang dilaksanakan di laboratorium untuk keperluan evaluasi terhadap stabilitas, daya dukung dan penurunan dari kontruksi jalan yang dibangun di atas tanah lunak. · Panduan ini juga menguraikan mengenai lempung inorganik dan lempung organik, gambut, dan penekanan khusus diberikan untuk tindakan pencegahan yang harus diambil ketika melakukan pengujian terhadap lempung organik dan dan gambut serta interpretasi terhadap data yang dihasilkannya. Sedangkan uji untuk material timbunan yang dipadatkan (misalnya untuk mendapatkan nilai maksimum dari kepadatan kering (dry density), nilai CBR (California Bearing Ratio) tidak akan dibahas dalam panduan ini. |
146 |
|
4 |
Panduan geoteknik 4 : Desain dan konstruksi |
Pt T-10-2002-B |
Panduan ini memberikan informasi dan advis dalam desain dan pelaksanaan konstruksi jalan di atas tanah lunak. Panduan ini mengidentifikasikan bermacam solusi yang memungkinkan untuk berbagai kondisi yang berbeda, serta mengemukakan secara umum kelebihan dan kekurangannya. Karenanya panduan ini memberikan metodologi untuk memilih desain yang paling cocok, dan menjelaskan bagaimana caranya Perekayasa Geoteknik yang ditunjuk (Designated Geotechnical Engineer) mengembangkan dan merekam proses pengambilan keputusannya. |
178 |
|
5 |
Tata cara identifikasi awal daerah longsoran |
Pt T-03-2002-B |
Pedoman teknis ini merupakan metode tata cara identifikasi awal daerah longsoran badan jalan dan sekitarnya. Pedoman ini dapat digunakan sebagai bahan/ informasi awal untuk penanggulangan darurat maupun penentuan. |
18 |
|
6 |
Cara uji pengukuran potensi keruntuhan tanah di laboratorium |
RSNI M-01-2002 |
Standar ini menentukan besaran keruntuhan satu dimensi yang terjadi bila tanah tak jenuh digenangi atau dibasahi dengan cairan. Standar ini menentukan |
13 |
|
No. |
Judul Standar |
Nomor Standar |
Ruang Lingkup |
Hal |
|
|
|
|
besaran potensi keruntuhan yang terjadi pada suatu tegangan vertikal dan indeks potensi keruntuhan. Cara uji meliputi pengaturan dan penyiapan benda uji peralatan, serta prosedur untuk mengukur perubahan tinggi benda uji sehubungan dengan terjadinya keruntuhan. |
|
|
7 |
Perencanaan konstruksi timbunan jalan di atas gambut dengan metode prapembebanan |
Pd T-06-2004-B |
Pedoman ini dimaksudkan sebagai penuntun bagi praktisi di dalam mendesain timbunan jalan di atas tanah gambut dengan metode prapembebanan. Berbagai teknik analisis stabilitas dan penurunan timbunan yang umum digunakan oleh perekayasa diuraikan terlebih dahulu. Kemudian kriteria desain penimbunan dan evaluasi performa timbunan dengan pemantauan (monitoring) secara praktis dibahas. |
43 |
|
8 |
Penanganan tanah ekspansif dengan geomembran sebagai penghalang kelembaban vertikal |
Pd T-11-2004-B |
Pedoman ini memberikan panduan untuk menerapkan geomembran sebagai suatu metode untuk mengontrol prilaku tanah ekspansif pada konstruksi jalan. Pedoman ini membahas mengenai spesifikasi material dan metode instalasi yang diperlukan dalam penerapan geomembran sebagai penghalang kelembaban vertikal (vertical moisture barrier). Pada lampiran, pedoman ini menguraikan secara ringkas mengenai prilaku dan cara mengidentifikasi tanah ekspansif. Aspek-aspek desain dan instalasi yang dibahas di sini mengacu pada keadaan dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di Indonesia. |
21 |
|
9 |
Rekayasa penanganan keruntuhan lereng jalan pada tanah residual dan batuan |
Pd T-09-2005-B |
Ruang lingkup pedoman ini menekankan perencanaan penanggulangan keruntuhan lereng pada deposit residual di daerah pegunungan dan perbukitan. Keruntuhan lereng (slope failure) dan stabilitas galian dan timbunan pada tanah lunak dan ekspansif tidak termasuk dalam ruang lingkup pedoman ini. Pedoman ini merupakan pelengkap dari Buku Tata Cara Penanggulangan Longsoran SNI - 03.1962 - 1990. |
100 |
|
2. Batuan, Sedimen, Agregat |
11 |
|||
|
10 |
Penggunaan tailing untuk lapis pondasi dan lapis pondasi bawah |
Pd T-14-2004-B |
Pedoman ini mengatur tata cara perencanaan penggunaan tailing untuk lapis pondasi dan lapis pondasi bawah sistem perkerasan jalan. Penggunaan tailing yang diatur dalam pedoman ini adalah sebagai bahan tambah untuk memperbaiki gradasi agregat atau sebagai bahan pengganti dari material yang diperlukan. |
|
|
11 |
Cara uji butiran agregat kasar berbentuk pipih, lonjong atau pipih dan lonjong |
RSNI T-01-2005 |
Standar ini menetapkan kaidah dan tata cara penentuan persentase dari butiran agregat kasar berbentuk pipih, lonjong, atau pipih dan lonjong. Pengujian ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu berdasarkan berat dan jumlah butiran. |
17 |
|
3. Beton, Semen, Perkerasan Beton Semen |
20 |
|||
|
12 |
Tata cara pengerjaan beton di lapangan |
Pt T-05-2000-C |
Tata cara ini mencakup bahan-bahan yang digunakan untuk beton, cara pengujian kuat tekan, cara pelaksanaan pembuatan beton. |
|
|
13 |
Spesifikasi campuran beton kinerja tinggi dengan abu terbang |
Pt S-08-2000-C |
Spesifikasi ini mencakup persyaratan bahan-bahan dan perbandingan campuran yang harus digunakan untuk menghasilkan beton kinerja tinggi. |
6 |
|
14 |
Pedoman penggunaan piber semen untuk bangunan |
Pt T-09-2000-C |
Pedoman ini mencakup cara penyimpanan, pemotongan dan pemasangan fiber semen. |
20 |
|
15 |
Tata cara penilaian dan penerimaan beton normal selama pelaksanaan bangunan |
Pt T-37-2000-C |
Tata cara ini mencakup ketentuan penilaian dan penerimaan beton normal yang mempunyai kekuatan tekan yang disyaratkan fe tidak lebih dari 55 Mpa selama pelaksanaan penilaian dan penerimaan. |
15 |
|
No. |
Judul Standar |
Nomor Standar |
Ruang Lingkup |
Hal |
|
16 |
Metode memperbaiki bahan bangunan fiber semen |
Pt M-01-2000-C |
Fiber semen merupakan bahan alternatif sebagai pengganti kayu yang potensinya semakin berkurang penggunaan fiber semen lebih aman dibandingkan dengan asbes semen yang ada karena kadar asbesnya lebih kecil dari 5 %. |
15 |
|
17 |
Tata cara pembuatan bata semen berlubang |
Pt T-06-2000-C |
Tata cara ini digunakan untuk memenuhi efisiensi dan meningkatkan mutu produk. Tata cara ini mencakup persyaratan, bahan dan cara pembuatan. |
16 |
|
18 |
Tata cara pembuatan genteng semen cetak tangan |
Pt T-07-2000-C |
Tata cara ini digunakan untuk memenuhi efisiensi dan meningkatkan mutu produksi. Tata cara ini mencakup persyaratan, bahan dan cara pembuatannya. |
18 |
|
19 |
Tata cara pelaksanaan beton padat giling (BPG) |
Pt T-07-2002-B |
Tata cara ini sebagai acuan dan pegangan dalam pelaksanaan BPG yang meliputi persyaratan dan ketentuan peralatan serta bahan, persiapan penghamparan, pencampuran, penghamparan, pemadatan, pengujian serta pengendalian mutu, sehingga diperoleh lapisan BPG sesuai yang direncanakan. |
18 |
|
20 |
Metode pengujian perubahan panjang untuk mortar dan beton keras menggunakan semen hidrolik |
RSNI M-04-2002 |
Metode ini mencakup penentuan perubahan panjang dan mortar dan beton keras menggunakan semen hidrolik yang disebabkan selain tekanan luar dan perubahan temperature. |
16 |
|
21 |
Spesifikasi beton berserat dan beton semprot |
RSNI S-05-2002 |
Spesifikasi ini mencakup seluruh jenis beton berserat yang diperuntukkan bagi pembeli yang bahan- bahannya dicampur merata dan dapat diambil contohnya dan diuji di tempat penyerahan. Spesifikasi ini tidak mencakup penempatan, pemadatan, perawatan atau perlindungan beton berserat sesudah diterima oleh pembeli. |
24 |
|
22 |
Pelaksanaan perkerasan jalan beton semen |
Pd T-05-2004-B |
Pedoman ini menguraikan prosedur pelaksanaan perkerasan jalan beton semen, baik pada jalan baru maupun pada jalan lama (lapis tambah beton semen). Pedoman mencakup persyaratan bahan, penyiapan tanah dasar dan lapis pondasi, penyiapan pembetonan, pembetonan, pengendalian mutu dan pembukaan untuk lalu lintas. |
37 |
|
23 |
Tata cara pembuatan dan pelaksanaan beton berkekuatan tinggi |
Pd T-04-2004-C |
a. Tata cara ini mencakup langkah-langkah pembuatan beton kekuatan tinggi yang dimaksudkan untuk memperoleh beton dengan kekuatan tekan optimum dan memenuhi persyaratan untuk beton kekuatan tinggi; b. Tata cara ini menetapkan metode pemilihan dan pemeriksaan bahan baku, rancang campuran, cara pelaksanaan dan pemeriksaan hasil percobaan susunan campuran beton kekuatan tinggi; c. Pelaksanaan pembuatan beton kekuatan tinggi harus diawasi oleh tenaga ahli, dan hasil pengujian sebagai pengendali mutu harus disahkan oleh laboratorium uji yang terakreditasi. |
63 |
|
24 |
Pelaksanaan pemasangan bantalan karet pada jembatan |
Pd T-06-2005-B |
Pedoman ini mengatur langkah-langkah dalam pemasangan bantalan karet agar tidak terjadi kerusakan akibat pemasangan yang salah selain itu pedoman ini memberikan petunjuk mengenai tata cara pemilihan bahan-bahan/produksi bantalan karet agar bantalan karet dapat berfungsi secara optimum. |
22 |
|
25 |
Pelaksanaan pekerjaan beton untuk jalan dan jembatan |
Pd T-07-2005-B |
Pedoman ini merupakan acuan untuk pelaksanaan pekerjaan pembetonan jalan dan jembatan. Cakupan beton yang dimaksud dalam pedoman ini adalah beton yang dibuat dengan menggunakan semen portland yang mempunyai berat isi sekitar 22 kN/mm3 |
26 |
|
No. |
Judul Standar |
Nomor Standar |
Ruang Lingkup |
Hal |
|
|
|
|
(2200 kg/m3) sampai dengan 24 kN/mm3 (2400 kg/m3) dan mempunyai kuat tekan (berdasarkan benda uji silinder) antara 10 MPa sampai dengan 65 MPa (setara dengan K-125 sampai dengan K-800 berdasarkan benda uji kubus). |
|
|
26 |
Pedoman perencanaan campuran lapis fondasi agregat semen (LFAS) |
Permen No.16/PRT/M/2007 |
Pedoman ini mengatur tata cara perencanaan campuran lapis fondasi agregat semen untuk lapis fondasi dan lapis fondasi bawah sistem perkerasan jalan beraspal. Dalam pembuatan rancangan campuran lapis fondasi agregat semen menggunakan bahan agregat kelas A atau agregat kelas B untuk lapis fondasi atau agregat kelas C untuk lapis fondasi bawah. Campuran lapis fondasi agregat semen merupakan campuran agregat dengan menambahkan semen dan air. Penggunaan semen yang diatur dalam pedoman ini adalah sebagai bahan tambah untuk memperbaiki kekuatan (daya dukung) lapis fondasi. |
14 |
|
4. Air, Air Tanah |
Pt S-11-2000-C |
Spesifikasi ini membahas tentang bentuk, komponen, ukuran, bahan, fungsi, struktur dan gambar dari IPAG. |
12 |
|
|
27 |
Spesifikasi instalasi sederhana pengolahan air gambut individual dengan memanfaatkan tanah liat setempat |
|||
|
28 |
Tata cara pembubuhan alumunium sulfat pada unit IPA |
Pt T-54-2000-C |
Tata cara ini mencakup, ketentuan mengenai pengoperasian pembubuhan Alumunium Sulfat, peralatan, bahan, penyimpanan, penanganan dan perhitungan. |
16 |
|
29 |
Tata cara pemeliharaan sarana pengambilan air baku |
Pt T-55-2000-C |
Tata cara ini adalah untuk memperoleh kontinuitas, kuantitas air baku, melindungi sarana pengambilan air baku agar lama operasi sesuai dengan perencanaan bagi keperluan pengelola. |
16 |
|
30 |
Spesifikasi bak penampungan air hujan untuk air bersih dari pasangan bata |
Pt S-05-2000-C |
Spesifikasi ini memuat pengertian dan persyaratan teknis bak penampung air dari pasangan bata untuk air bersih yang mencakup bentuk ukuran, bahan, fungsi dan ekuatan atau struktur dengan kapasitas 2M³ sampai dengan 10M³. |
10 |
|
31 |
Spesifikasi komponen struktur lantai tingkat komposit kayu-beton untuk gedung dan rumah |
Pt S-10-2000-C |
Spesifikasi ini berisi persyaratan teknis yang meliputi bahan, bentuk, ukuran, fungsi dan kekuatan, komponen-struktur lantai komposit kayu beton untuk bangunan gedung dan rumah. |
15 |
|
32 |
Spesifikasi instalasi sederhana pengolahan air gambut individual dengan me manfaatkan tanah liat setempat |
Pt S-11-2000-C |
Spesifikasi ini membahas tentang bentuk, komponen, ukuran, bahan, fungsi, struktur dan gambar dari IPAG. |
10 |
|
33 |
Tata cara analisis pengujian surutan bertahap pada sumur uji dan sumur produksi dengan Metode Hantush Beirschenk |
RSNI T-06-2002-03 |
Standar ini menetapkan karakteristik kinerja sumur uji atau sumur produksi dalam rangka penentuan serahan optimum yang dihasilkan semur tersebut melalui analisis dara uji pemompaan surutan bertahap (step drawdown test) menggunakan metode Hantush- Bierschenk). |
9 |
|
34 |
Metode uji penentuan kadar pasir dalam slari bentonik (D 4381-84) |
RSNI M-01-2004 |
Metode ini meliputi penentuan kadar pasir dari slari bentonik yang digunakan dalam teknik-teknik pemboran tanah dan konstruksi pembuatan dinding haling yang menggunakan slari bentonik. Kadar pasir diberikan dalam persen (%) perbandingan volume. |
12 |
|
35 |
Metode uji koefisien kelulusan air tanah pada tanah gambut jenuh dengan tinggi tekan tetap |
RSNI M-02-2004 |
Metode uji ini menguraikan penentuan koefisien kelulusan air dari benda uji gambut jenuh air berbentuk silindris yang memiliki koefisien kelulusan air lebih besar dari 1x10-5 cm/ detik kondisi benda uji harus dibuat sama seperti kondisi asli di lapangan. |
12 |
|
36 |
Metode uji kelulusan air pada tanah tak jenuh menggunakan sel triaksial |
RSNI M-03-2004 |
Metode uji ini digunakan untuk melakukan pengukuran kelulusan air pada tanah yang jenuh dengan |
32 |
|
No. |
Judul Standar |
Nomor Standar |
Ruang Lingkup |
Hal |
|
|
|
|
menggunakan sel triaksial di laboratorium. Metode uji ini dapat pula digunakan untuk tanah tak terganggu atau contoh tanah yang dipadatkan dengan menggunakan prinsip dasar satu dimensi dan aliran laminar yang melalui material seperti tanah dan batuan. Dalam pengujian ini nilai gradient hidraulik, perubahan dan perilaku benda uji dapat diketahui melalui peralatan pengukur tekanan dan pengukur perubahan volume, sehingga diharapkan akan diperoleh nilai kelulusan air yang memuaskan. |
|
|
37 |
Perhitungan evapotranspirasi tanaman acuan dengan metode Penman Monteith (FAO) |
RSNI T-01-2004 |
Pedoman ini membahas tentang langkah perhitungan evapotranspirasi tanaman acuan metode Penman- Monteith, menjelaskan persyaratan data iklim, topografi yang diperlukan. Metode ini dimaksudkan sebagai acuan dan pegangan dalam menghitung evapotranspirasi tanaman acuan dengan tujuan terbatas untuk menentukan besarnya evapotranspirasi potential tanaman dengan menggunakan metode Penman-Monteith. |
19 |
|
38 |
Perhitungan hujan maksimum boleh jadi dengan metode Hersfield |
RSNI T-02-2004 |
Pedoman perhitungan hujan maksimum boleh jadi mencakup data yang digunakan, penyaringan data, perhitungan hujan maksimum boleh jadi dengan Metode Hersfield yang hanya berlaku untuk hujan titik dan bukan untuk hujan wilayah, serta evaluasi hasil perhitungan hujan maksimum boleh jadi (HMBJ). |
26 |
|
39 |
Tata cara penentuan tinggi muka air tanah pada lubang bor dengan sumur pantau (D 4750-87) |
RSNI T-03-2004 |
Standar ini menguraikan prosedur untuk mengukur tinggi muka air di dalam suatu lubang bor atau sumur pantau yang menggunakan alat ukur mekanik dengan pemberat dan alat ukur elektrik. Ada tiga pilihan cara pengukuran yaitu : 1. Alat ukur dengan pemberat 2. Alat ukur dengan tanda bunyi 3. Alat ukur dengan tanda nyala (Elektrik) Cara pengukuran dengan bunyi hanya dapat dilakukan pada lubang bor atau sumur dengan muka air tanah dangkal. Data hasil pengukuran tinggi muka air tanah yang diperoleh selain digunakan untuk pemantauan muka air tanah yang diperoleh selain digunakan untuk pemantauan muka air tanah juga digunakan dalam penentuan muka air static pada lubang bor atau sumur pantau. |
15 |
|
40 |
Tata cara penentuan kadar air batuan dan tanah di tempat dengan metode Penduga Neutron |
RSNI T-04-2004 |
Standar ini membahas mengenai tata cara penentuan kadar air batuan dan tanah dengan penduga neutron, metode pemeriksaan dan kalibrasi pencacahan untuk kurva rujukan. Tata cara penentuan kadar air batuan dan tanah dengan penduga neutron ini : a. Sebagai suatu teknik yang cepat dalam menguji kadar air batuan dan tanah di tempat secara tidak langsung pada kedalaman tertentu tanpa terganggu; b. Dapat digunakan untuk pemantauan dan analisis statistik, karena dilakukan secara berulang di tempat yang sama. |
17 |
|
41 |
Tata cara penentuan akuifer dengan metode logging geolistrik tahanan jenis short normal dan long normal dalam rangka eksplorasi air |
RSNI T-05-2004 |
Standar ini menjelaskan pelaksanaan logging tahanan jenis dalam pekerjaan pengeboran air tanah dengan mengetahui data tahanan jenis batu atau tanah di dalam sumur untuk menentukan jenis batuan, batas |
17 |
|
No. |
Judul Standar |
Nomor Standar |
Ruang Lingkup |
Hal |
|
|
tanah |
|
lapisan, dan akuifer. Data hasil pengukuran dikorelasikan dengan log bor hasil pengeboran untuk menentukan litologi, ketebalan, dan kedalaman akuifer. Pengukuran dilaksanakan sebelum konstruksi sumur yang merupakan sebagian tahanan kegiatan pengeboran air tanah, membantu dalam menentukan ketebalan, ke dalaman akuifer, pemasangan pipa dan saringan. |
|
|
42 |
Tata cara pengukuran laju infiltrasi tanah di lapangan dengan menggunakan infiltrometer cincin ganda (D 3385-88) |
RSNI T-06-2004 |
Standar ini menguraikan mengenai tata cara pengukuran laju infiltrasi air ke dalam tanah menggunakan infiltrometer cincin ganda. Tata cara ini dapat dilakukan : a. di permukaan tanah atau pada kedalaman tertentu dalam galian, pada lahan kosong atau pada tempat bervegetasi; b. pada tanah yang memiliki koefisien permeabilitas (k) antara 10 –6m/s sampai 10-2m/s c. untuk mempelajari pembuangan limbah cair, evaluasi tangki septic, efisiensi drainase, kebutuhan irigasi, imbuhan air tanah, kebocoran saluran dan bendungan. |
16 |
|
43 |
Tata cara pengukuran tegangan hisap tanah zona tak jenuh menggunakan tensiometer |
RSNI T-07-2004 |
Standar ini menguraikan mengenai tata cara pengukuran tegangan hisap tanah zona tak jenuh menggunakan tensiometer, pemilihan jenis tensiometer, pemasangan serta pengoperasian tensiometer. Tata cara pengukuran ini meliputi: a. Batas pengukuran tensiometer buku adalah (0– 8,67) m air, atau tergantung spesifikasi tensiometer yang didesain khusus dapat mengukur sampai dengan –153 m; b. Penggunaan hasil pengukuran untuk memperkirakan kadar air tanah; Penggunaan hasil pengukuran untuk kepentingan penelitian dalam mempelajari arah dan gerakan air zona tak jenuh, studi imbuhan air tanah, manajemen irigasi. |
24 |
|
44 |
Tata cara membandingkan hasil simulasi model aliran air tanah terhadap informasi lapangan. |
RSNI T-08-2004 |
Standar ini membahas teknik kuantitatif, dan kualitatif yang menghasilkan ukuran derajat keterkaitan antara hasil simulasi model aliran air tanah, dan informasi lapangan berupa data pengukuran, yang digunakan dalam proses kalibrasi model aliran air tanah. |
21 |
|
45 |
Tata cara penerapan model aliran air tanah |
RSNI T-09-2004 |
Standar ini menguraikan prinsip umum mengenai pengembangan, penerapan dan pendokumentasian model aliran air tanah, yang dalam konteks ini merujuk kepada model matematik, untuk memecahkan persoalan spesifik aliran air tanah setempat. Secara garis besar diuraikan langkah-langkah pengembangan suatu model aliran air tanah untuk menirukan perilaku sistem akuifer yang telah dipelajari di lapangan. Standar ini tidak mengidentifikasi perangkat lunak tertentu berupa program komputer spesifik atau algoritma. Standar ini merupakan salah satu dari rangkaian standar-standar yang dibuat mengenai model air tanah dan tidak dimaksudkan bahwa semua hal telah tercakup dengan lengkap. |
15 |
|
46 |
Tata cara penentuan gradient bahan filter pelindung pada bangunan tipe urugan |
RSNI T-10-2004 |
Tata cara ini digunakan untuk menguraikan ketentuan tentang gradasi bahan filter pelindung yang tepat guna pembuatan filter dari bahan alami pada bendungan urugan, atau yang disiapkan dari bahan alami (misal : |
23 |
|
No. |
Judul Standar |
Nomor Standar |
Ruang Lingkup |
Hal |
|
|
|
|
batuan) dengan cara penghancuran, pengayakan, uji gradasi dan pencampuran, agar keamanan bendungan urugan tersebut dapat dipelihara dengan baik. |
|
|
47 |
Tata cara pengukuran lapangan laju infiltrasi menggunakan infiltrometer cincin ganda dengan cincin bagian dalam yang tersumbat |
RSNI T-11-2004 |
Standar ini menguraikan prosedur untuk mengukur laju infiltrasi dari air yang melewati permukaan tanah lempung dengan laju infiltrasi berkisar antara 1x10-10 m/s sampai 1x10-7 m/s menggunakan infiltrometer cincin ganda dengan cincin dalam tertutup. |
24 |
|
48 |
Perhitungan indeks kekeringan menggunakan teori RUN |
Pd. T-02-2004-A |
Pedoman ini membahas tata cara penghitungan indeks kekeringan menggunakan teori RUN. Indeks kekeringan yang dihasilkan mencakup durasi kekeringan dan jumlah kekeringan dengan berbagai periode ulang, digunakan untuk mengetahui tingkat keparahan kekeringan dalam suatu seri data hujan dan dan untuk kapasitas bendung. Pedoman ini hanya membahas indeks kekeringan titik pada setiap pos hujan, bukan kekeringan wilayah (regional drought). |
26 |
|
49 |
Pemberian air pada lahan dengan Sistem Surjan |
Pd. T-03-2004-A |
Pedoman ini membahas prosedur tata cara atau teknik menata lahan dan mengatur pemberian air dengan sistem surjan pada sustu areal yang meliputi perencanaan dan pelaksanaan lapangan serta operasi dan pemeliharaan. |
44 |
|
50 |
Pengawasan dan penyimpanan serta pemanfaatan data kualitas air |
Pd. T-19-2004-A |
a. Pedoman ini merupakan panduan untuk pengawasan, penyimpanan dan pemanfaatan data kualitas air dalam rangka pemantauan kualitas air agar data yang tersedia dapat dimanfaatkan secara berkesinambungan; b. Pedoman ini mencakup tiga bagian yaitu pengawasan keabsahan data, penyimpanan data dan pemanfaatan data; c. Pedoman ini hanya berlaku untuk data kualitas air permukaan dan air tanah tidak termasuk air limbah dan air laut. |
15 |
|
B. Sumber Daya Air |
|
|||
|
Bendung, Bendungan, Sungai, Irigasi, Pantai |
||||
|
5. Bendung |
Pd T-01-2003 |
Tata cara ini digunakan untuk mendesain hidraulik bangunan pengambil pada bendung Tyrol. Jenis bangunan ini digunakan terutama di sungai torensial dengan angkutan sedimen yang sangat berfluktuasi dan membawa batu gelundung. |
|
|
|
51 |
Tata cara desain hidraulik bangunan pengambil pada bendung tyrol |
|||
|
52 |
Tata cara desain hidraulik tubuh bendung tetap dengan peredam energi tipe MDO dan MDS |
RSNI T-04-2002 |
Standar ini digunakan untuk menentukan bentuk dan dimensi hidraulik tubuh bendung tetap dengan peredam energi tipe MDO dan MDS dan kelengkapannya yangmerupakan bagian dari bangunan air. Tubuh bendung tetap dengan peredam energi tipe MDO dapat digunakan untuk jenis banuan air seperti bottom controller, bangunan utama, bendung, pelimpah, waduk, bengunan pembagi debit, bangunan plimpah samping, bangunan terjun, bangunan pelimpah kantong lahar, cause way dan submersile bridge. |
24 |
|
53 |
Perencanaan hidraulik bendung dan pelimpah bendungan tipe gergaji |
Pd. T-01-2004-A |
Bendung dan pelimpah bendungan tipe gergaji sangat sesuai untuk diterapkan pada kasus yang memerlukan kapasitas pelimpah yang besar pada bentang yang relatif sempit/ terbatas, guna mengendalikan tinggi muka air udik, misalnya : pada kasus bendung untuk pembangkit listrik tenaga air. |
27 |
|
54 |
Pembuatan bendung bronjong dengan sekat semi kedap air pada |
Pd. T-04-2004-A |
Pedoman ini merupakan acuan dalam pembuatan bendung beronjong dengan sekat semikedap air pada |
25 |
|
No. |
Judul Standar |
Nomor Standar |
Ruang Lingkup |
Hal |
|
|
irigasi desa |
|
irigasi desa. Pedoman ini mencakup tiga bagian kegiatan, yaitu meliputi perencanaan, pelaksanaan operasi, dan pemeliharaan. |
|
|
55 |
Instrumentasi tubuh bendungan tipe urugan dan tanggul |
Pd. T-08-2004-A |
Pedoman ini memberikan prinsip-prinsip tentang pelaksanaan, konsep dan pertimbangan sistem desain instrumentasi untuk tubuh bendungan tipe urugan dan tanggul, yang meliputi secara rinci tentang : 1. Perilaku bendungan tipe urugan dan ebatmen; 2. Konsep dan pertimbangan sistem desain instrumentasi geoteknik mencakup tinjauan umum; karakteristik dari rekayasa geoteknik; karakteristik tujuan, konsep dasar dan desain sistem instrumentasi, upaya perolehan; kualifikasi personil dan pertanggung jawaban; 3. Tata cara kerja alat dari masing-masing jenis, metode dan penggunaannya; 4. Pertimbangan otomatisasi antara lain meliputi tinjauan umum, penggunaan, batasan deskripsi, desain dan pelaksanaan, serta pemeliharaan sistem otomatisasi; 5. Pemasangan dan pemeliharaan instrumentasi antara lain meliputi tinjauan umum, desain perencanaan penempatan, personil, prosedur, dokumentasi dan pemeliharaan; 6. Pengelolaan data, analisis dan pelaporan. Penilaian ulang secara kontinu untuk pemantauan jangka panjang. |
10 |
|
56 |
Perencanaan bendung karet isi udara |
Pd. T-09-2004-A |
Pedoman ini berlaku untuk bendung karet isi udara dengan pengempisan secara otomatis, yang berfungsi untuk melayani bangunan pengambilan air dan atau menahan intrusi air laut di alur sungai. Isi pedoman mencakup kriteria perencanaan, perencanaan tata letak, perencanaan hidraulik, perencanaan stabilitas, dan perencanaan instalasi yang dikaitkan dengan kemudahan dalam operasi. |
32 |
|
57 |
Uji mutu konstruksi untuk pondasi dan tubuh bendung tipe urugan |
Pd. M-01-2004-A |
Pedoman ini membahas tentang uji mutu konstruksi bendungan tipe urugan, dengan memberikan penjelasan prinsip-prinsip yang terdiri dari : 1. Organisasi lapangan dan tanggung jawab; 2. Perbaikan fondasi dan ebatmen yang mencakup tinjauan umum; pembersihan, pengupasan dan penggalian, serta pengendalian rembesan; 3. Penggunaan material, peralatan dan proses penggalian di borowarea dan kauri; 4. Peralatan dan proses pelaksanaan pengurugan, serta proses uji mutu konstruksi bendungan tipe urugan (tanah dan batu); 5. Pencatatan dan pelaporan pekerjaan. Pedoman ini tidak membahas mengenai metode pengontrolan sungai selama pelaksanaan kontruksi bendungan, yang rinciannya dapat dilihat pada pedoman PdT-31-2000-03. |
|
|
58 |
Analisis harga satuan pekerjaan manual pada jaringan irigasi tersier |
Pd T-01-2005-A |
Pedoman analisis harga satuan pekerjaan ini memuat indeks bahan bangunan, indeks tenaga kerja yang dibutuhkan untuk tiap satuan pekerjaan persiapan, pembersihan, galian tanah, timbunan tanah, pasangan batu belah, plesteran, beton, pembesian, cetakan beton dan pintu air sesuai dengan spesifikasi teknis pekerjaan jaringan irigasi tersier yang dikerjakan dengan cara manual. |
38 |
|
No. |
Judul Standar |
Nomor Standar |
Ruang Lingkup |
Hal |
|
59 |
Analisis daya dukung tanah pondasi dangkal bangunan air |
Pd T-02-2005-A |
Pedoman ini menetapkan analisis daya dukung tanah fondasi dangkal bangunan air untuk keperluan desain bangunan dan fondasi bangunan air. Dalam pedoman ini diuraikan prinsip-prinsip analisis daya dukung sebagai berikut. |
72 |
|
60 |
Penyelidikan geoteknik untuk fondasi bangunan air Volume 1. Penyusunan program penyelidikan, metode pengeboran dan deskripsi log bor |
Pd T-03-2005-A |
Pedoman ini menetapkan penyusunan program penyelidikan, metode pengeboran dan deskripsi log bor, untuk keperluan penyelidikan geoteknik untuk fondasi bangunan air. |
105 |
|
61 |
Penyelidikan geoteknik untuk fondasi bangunan air Volume 2. Pengujian lapangan dan laboratorium |
Pd T-04-2005-A |
Pedoman ini menetapkan pengujian lapangan dan laboratorium, yang diperlukan dalam penyelidikan geoteknik untuk fondasi bangunan air. Pedoman ini menguraikan prinsip-prinsip pengujian lapangan dan laboratorium Pengujian lapangan (insitu testing), penyelidikan air tanah, pengujian laboratorium tanah dan jaminan mutu, pengujian laboratorium batuan dan jaminan mutu. |
134 |
|
62 |
Penyelidikan geoteknik untuk fondasi bangunan air Volume 3. Interpretasi hasil uji dan penyusunan laporan penyelidikan geoteknik |
Pd T-05-2005-A |
Pedoman ini menetapkan interpretasi hasil uji dan penyusunan laporan penyelidikan geoteknik untuk keperluan penyelidikan geoteknik untuk fondasi bangunan air, dalam pedoman ini diuraikan prinsip- prinsip : interpretasi hasil uji tanah, interpretasi hasil uji batuan teknik, penyusunan laporan hasil penyelidikan geoteknik, pertimbangan penyusunan kontrak penyelidikan. |
110 |
|
63 |
Perencanaan jeti tipe rubble mound untuk penanggulangan penutupan muara sungai oleh sedimen |
Pd T-06-2005-A |
Pedoman ini menetapkan tata cara perencanaan jeti tipe rubble mound untuk penanggulangan penutupan muara sungai oleh sedimen untuk membantu para perencana, pelaksana, dan pengambil keputusan yang berkaitan dengan pekerjaan perbaikan muara sungai, agar dampak negatif dari pekerjaan tersebut dapat dikurangi. Pedoman ini merupakan bagian yang rinci dari pd t-07- 2004-a, yaitu khusus untuk jeti tipe rubble mound. Pedoman ini dapat digunakan untuk perbaikan muara sungai dengan luas daerah aliran sungai < 500 km2 atau sungai dengan lebar < 200 m. |
131 |
|
64 |
Metode pengolahan data klimatologi |
Pd M-18-1995-03 |
Metode ini bertujuan untuk mengolah dan menyajikan data klimatologi secara tepat dan akurat dan mendapatkan data klimatologi yang andal dan siap pakai. |
|
|
65 |
Metode penentuan lokasi dan pembangunan pos klimatologi |
Pd M-19-1995-03 |
Metode ini bertujuan untuk mendapatkan lokasi pos klimatologi yang tepat serta pembangunan pos klimatologi yang baik dan benar agar diperoleh hasil pengamatan yang akurat bagi perencana dan pengguna data. |
|
|
66 |
Metode penentuan volume gambut olahan |
Pt M-02-2000-A |
Metode ini mencakup pengukuran volume gambut yang telah diolah dalam bentuk urai dan dinyatakan dalam meter kubik. Metode ini digunakan untuk mengetahui kuantitas gambut dalam transaksi komersial. |
|
|
No. |
Judul Standar |
Nomor Standar |
Ruang Lingkup |
Hal |
|
67 |
Tata cara penggalian pada pekerjaan tanah |
Pt T-39-2000-A |
Tata cara ini mencakup tata cara penggalian pada pekerjaan tanah yang meliputi faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas lereng penggalian, faktor lingkungan dan geometri lapangan, analisis stabilitas lereng, desain sarana-sarana penggalian, pemantauan stabilitas serta hal-hal lain yang berkaitan dengan kemanan lereng galian. |
|
|
68 |
Tata cara deskripsi keadaan dan penyelidikan lapangan pada pekerjaan tanah |
Pt T-40-2000-A |
Tata cara ini mendeskripsikan tentang keadaan dan investigasi lapangan pada pekerjaan tanah yang mencakup uraian kondisi lingkungan, kelayakan pekerjaan, resiko longsoran dan perubahan bentuk yang diizinkan terhadap bangunan yang ada disekitarnya. |
|
|
69 |
Tata cara penimbunan dan bahan urugan pada pekerjaan tanah |
Pt T-41-2000-A |
Tata cara ini mencakup cara-cara pembuatan timbunan dan urugan umum pada pekerjaan tanah yang meliputi hal-hal yang mempengaruhi seperti desain faktor keamanan, kecocokan bahan timbunan dan urugan, sistem drainase serta peninjauan kondisi lapangan tempat pembuatan timbunan dan urugan. |
|
|
70 |
Tata cara pemasangan dan pembacaan alat ukur regangan tanah/tiltmeter |
Pt T-42-2000-A |
Tata cara ini untuk digunakan sebagai acuan dan pegangan dalam melaksanakan pemasangan alat ukur regangan di bawah permukaan tanah untuk pemantauan gerakan tanah serta bertujuan untuk menjamin pemasangan alat ukur regangan tanah di bawah permukaan dengan benar dan berfungsi dengan baik sehingga dapat menghasilkan data gerakan tanah yang teliti. |
|
|
71 |
Tata cara pelaksanaan pekerjaan tanah Bagian 1 : Keselamatan dalam pekerjaan tanah |
Pt T-43-2000-A |
Tata cara ini mndeskripsikan secara ringkas tentang hal-hal yang perlu diperhatikan dan tindakan penyelamatan apabila tirade kecelakaan pada pekerjaan tanah. |
|
|
72 |
Tata cara pemadatan tanah pada pekerjaan tanah |
Pt T-44-2000-A |
Tata cara ini mencakup cara pemadatan yang meliputi metode pemadatan, karakteristik bahan yang dipadatkan, pelaksanaan dan pengendalian mutu pemadatan di lapangan. |
|
|
73 |
Tata cara pelaksanaan paritan pada pekerjaan tanah |
Pt T-45-2000-A |
Tata cara ini mencakup tata cara pelaksanaan paritan pada pekerjaan tanah yang meliputi metode pelaksanaan, cara-cara penggalian untuk berbagai kondisi paritan dan jenis peralatan yang digunakan untuk penggalian. |
|
|
74 |
Tata cara desain paritan, sumuran dan terowongan pada pekerjaan tanah |
Pt T-47-2000-A |
Tata cara ini mencakup pertimbangan-pertimbangan di dalam desain paritan, sumuran, dan sumuran dalam pada pekerjaan tanah yang meliputi pertimbangan kondisi lapangan, pengendalian air tanah, dan air permukaan, stabilitas galian, dan bahan pertimbangan praktis terhadap metode penggalian, peninjauan terhadap bangunan yang sudah ada, pembuangan sisa galian dan lain-lain. |
|
|
No. |
Judul Standar |
Nomor Standar |
Ruang Lingkup |
Hal |
|
75 |
Pedoman operasi dan pemeliharaan bendung karet isi udara |
Pd T-07-2005-A |
Pedoman ini menetapkan tata cara operasi dan pemeliharaan bendung karet isi udara (khusus tabung karet) dengan pengempisan secara otomatis, yang berfungsi untuk melayani bangunan pengambilan air dan menahan intrusi air laut yang di bangun pada alur sungai. |
115 |
|
76 |
Pedoman penerapan teknologi tepat guna bidang pekerjaan umum |
Pd.T-09-2005-A |
Pedoman ini merupakan tata cara penerapan teknologi tepat guna bidang pekerjaan umum agar diterapkan oleh pemerintah daerah dan masyarakat melalui proses pendampingan. Pedoman ini khusus membahas penerapan TTG bidang pekerjaan umum yang didanai oleh APBN dan APBD (Provinsi/Kabupaten/Kota). |
|
|
6. Bendungan |
Pt M-03-2000-A |
Metode ini meliputi hal sebagai berikut : - Memuat ketentuan, prosedur dan laporan. - Menentukan kapasitas tampungan banjir pada waduk. Menghitung penelusuran banjir dengan metode Modified Puls. |
|
|
|
77 |
Metode perhitungan kapasitas tampungan pada waduk |
|||
|
78 |
Tata cara desain tubuh bendungan tipe urugan |
RSNI T-01-2002 |
Standar ini memberikan prinsip umum cara desain bendungan tipe urugan tanah homogen, zonal dan membran serta tanggul penutup/tanggul banjir. |
65 |
|
79 |
Metode analisis dan cara pengendalian rembesan air untuk bendungan tipe urugan |
RSNI M-02-2002 |
Standar ini dimaksudkan untuk menentukan agar semua aspek pengendalian rembesan air dipertimbangkan baik dalam desain bendungan tipe urugan baru maupun desain untuk modifikasi bendungan tipe urugan lama serta memberi rekomendasi praktis dalam analisis rembesan air. |
58 |
|
80 |
Metode analisis stabilitas lereng statik bendungan tipe urugan |
RSNI M-03-2002 |
Standar ini membahas tentang stabilitas lereng statik bendungan tipe urugan, dengan mempertimbangkan kondisi pembebanan, sifat-sifat teknik material, tekanan air pori dan faktor keamanan minimum untuk desain. Analisis stabilitas untuk bendungan tipe urugan dianjurkan dilaksanakan berdasarkan standar ini akan diberikan dalam suatu dokumentasi teknis untuk analisis stabilitas. |
31 |
|
81 |
Desain dan konstruksi pita drain vertikal prefabrikasi (PDVP) |
Pd. T-13-2004-A |
Pedoman ini menjelaskan prinsip-prinsip tentang penggunaan pita drain vertical prefabrikasi (PDVP) atau drain sumbu untuk konstruksi bangunan air (bendungan urugan) yang terdiri dari: 1. Pengarahan dan penggunaan PDVP dalam desain bangunan air, dan evaluasi duplikasi pada bangunan; yang mengalami prakompresi. 2. Informasi tentang jenis dan karakteristik PDVP, serta pembahasan parameter tanah; 3. Interpretasi tentang kondisi, cara pemasangan, dan desain PDVP. Petunjuk praktis dalam evaluasi, desain dan konstruksi, pengawasan, dan pertimbangan biaya bangunan yang menggunakan PDVP |
71 |
|
82 |
Analisis stabilitas bendungan tipe urugan akibat gempa bumi |
Pd. T-14-2004-A |
Pedoman ini menjelaskan Analisis stabilitas bendungan tipe urugan akibat beban gempa, seperti diuraikan secara singkat dalam bagan alir pada lampiran gambar A.1, yang terdiri dari : - Petunjuk umum pemilihan parameter gempa untuk desain bendungan dan bangunan pengairan; |
91 |
|
No. |
Judul Standar |
Nomor Standar |
Ruang Lingkup |
Hal |
|
|
|
|
- Penentuan beban gempa menggunakan peta zona gempa dengan cara menentukan percepatan gempa maksimum di permukaan tanah untuk desain bendungan beserta bangunan pelengkapnya dan bangunan air lainnya; - Penjelasan proses likuifaksi bila terjadi gempa bumi dan gempa imbas pada waktu pengisian waduk; - Penentuan parameter dinamik untuk tanah dan batuan dengan cara uji lapangan , uji laboratorium dan cara empiris. Metode analisis stabilitas bendungan urugan, akibat beban gempa dengan cara koefisien gempa dan cara dinamik. |
|
|
7. Sungai |
|
|
|
|
|
83 |
Peramalan debit aliran sungai |
Pd. T-06-2004-A |
Pedoman ini membahas hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan prosedur dan melaksanakan peramalan debit aliran sungai, selain dari debit banjir. Pedoman ini dapat digunakan untuk mengembangkan dan melaksanakan peramalan ketersediaan air dan aliran rendah. Pedoman umum ini membahas : 1. Jenis dan akurasi peramalan debit aliran sungai ; 2. Pelayanan peramalan debit aliran sungai ; 3. Data untuk peramalan; 4. Teknik peramalan; 5. Pengembangan prosedur peramalan; 6. Verifikasi peramalan; 7. Diseminasi peramalan. Rincian mengenai berbagai teknik peramalan, masing- masing akan dibahas pada pedoman khusus tersendiri. |
23 |
|
84 |
Perbaikan muara sungai dengan Jeti |
Pd. T-07-2004-A |
Pembuatan pedoman umum perbaikan muara sungai dengan jeti ini bertujuan untuk membantu para perencana, pelaksana dan pengambil keputusan dalam kaitannya dengan pekerjaan perbaikan muara sungai, agar dampak negatif dari pekerjaan tersebut dapat dikurangi. Dengan adanya buku pedoman ini, perbaikan muara sungai yang jumlahnya sangat banyak tersebut dapat dikerjakan dengan lancar dan terarah. Disamping itu, buku ini juga dapat dimanfaatkan untuk keperluan pendidikan dan pengajaran. Pedoman ini bersifat umum untuk menanggulangi proses penutupan muara sungai dan untuk stabilisasi muara sungai. Yang dimaksud muara sungai disini adalah muara sungai dengan daerah aliran sungai < 50 km2, atau sungai dengan lebar normal < 200 m. Pedoman ini akan ditindaklanjuti dengan tata cara desain. |
44 |
|
85 |
Pengukuran dan pemetaan teritris sungai |
Pd. T-10-2004-A |
Pedoman ini berisi ketentuan dasar yang memberikan arah mengenai bagaimana melakukan Pengukuran dan pemetaan teritris sungai, mulai dari tahap persiapan, pengumpulan data, pengolahan data dan penyajian hasil. Disini diberikan pula rincian dari hasil suatu kegiatan Pengukuran dan pemetaan teritris sungai. Pedoman ini dapat digunakan bagi berbagai pihak yang berkaitan dengan penanganan sungai, khususnya para praktisi yang akan menyusun rencana pengukuran dan pemetaan teritris sungai, melaksanakan Pengukuran dan pemetaan teritris |
43 |
|
No. |
Judul Standar |
Nomor Standar |
Ruang Lingkup |
Hal |
|
|
|
|
sungai, atau mengevaluasi pelaksanaan pengukuran dan pemetaan teritris sungai. |
|
|
86 |
Pemeliharaan bangunan persungaian |
Pd. T-11-2004-A |
Pedoman ini terdiri dari pokok bahasan yang mencakup aspek pemeliharaan yang meliputi kegiatan pengamatan, perencanaan, program pelak-sanaan, dan evaluasi yang didasarkan pada semua tinjauan baik fisik maupun non-fisik yang terdiri dari : a. Inventarisasi dan pemeriksaan kondisi bangunan persungaian serta alur sungai yang mempengaruhinya; b. Monitoring adanya bahaya yang mengancam bangunan persungaian, yaitu pemeliharaan alur sungai, bangunan sungai dan fasilitas penunjangnya; c. Komponen-komponen pemeliharaan bangunan persungaian, yaitu pemeliharaan alur sungai, bangunan sungai dan fasilitas penunjangnya; d. Pelaksanaan pemeliharaan bangunan persungaian dan fasilitas penunjangnya yang bersifat pemeliharaan pencegahan, pemeliharaan korektip dan pemeliharaan darurat; e. Tanggung jawab pemeliharaan bangunan persungaian; f. Bangunan sungai yang keberadaannya menjadi tanggung jawab instansi pengelola sungai adalah bangunan pengendali banjir (tanggul, struktur drainase, bendung pembagi aliran), dan bangunan pengendali sungai (krib pengarah arus, pelindung tebing, bangunan pengendali dasar sungai), sedang bangunan yang berada di sungai namun keberadaannya tidak menjadi tanggung jawab pengelola sungai adalah bangunan pengambilan (bendung, intake) untuk keperluan irigasi/industri, jembatan siphon, dan talang. |
65 |
|
87 |
Perencanaan teknis bendung pengendali dasar sungai |
Pd. T-12-2004-A |
Pedoman ini membahas ketentuan dasar tentang persyaratan untuk mendesain bendung pengendali dasar sungai, terutama pada sungai lahar. Dalam pedoman ini diuraikan beberapa ketentuan yang mencakup : - data dan informasi yang diperlukan; - persyaratan mengenai fungsi, keamanan hidraulik dan struktur. Pedoman ini dipakai bersama-sama dengan standar lain yang berlaku dan sesuai dengan peraturan yang terkait. |
38 |
|
88 |
Perencanaan teknis bangunan tanggul sungai lahar |
Pd. T-16-2004-A |
Pedoman ini membahas persyaratan-persyaratan, ketentuan-ketentuan dan cara perencanaan teknis tanggul pada sungai lahar dengan kondisi dasar sungai sudah stabil dan secara umum terbuat dari tanah non kohesif. |
30 |
|
89 |
Pengamanan bangunan sabo dari gerusan lokal |
Pd. T-17-2004-A |
Pedoman ini membahas tentang persyaratan, ketentuan dan prosedur perencanaan teknis pengamanan bangunan sabo terhadap kerusakan yang terjadi akibat dari proses interaksi degradasi dan gerusan lokal. |
21 |
|
90 |
Pembuatan peta bahaya akibat aliran debris |
Pd. T-18-2004-A |
Pedoman ini menguraikan persyaratan, ketentuan- ketentuan dan pengerjaan pembuatan peta bahaya akibat longsoran tebing sungai dan limpasan aliran debris serta berlaku untuk pembuatan peta bahaya akibat aliran debris untuk daerah vulkanik dan non- vulkanik yang rawan terhadap aliran debris. |
29 |
|
91 |
Prakiraan dan peringatan dini banjir |
Pd. T-23-2004-A |
Pedoman ini dibuat untuk memudahkan perencana/ |
41 |
|
No. |
Judul Standar |
Nomor Standar |
Ruang Lingkup |
Hal |
|
|
|
|
peneliti/ pelaksana pekerjaan dalam merencanakan system peramalan banjir dan peringatan dini banjir. Pedoman ini membahas hal-hal sebagai berikut : 1. data yang diperlukan untuk peramalan; 2. persyaratan, ketentuan dalam penempatan stasiun telemetri; 3. instrumentasi/ peralatan yang diperlukan; 4. metode yang dapat digunakan; 5. organisasi yang diperlukan; 6. standar operasi dan peringatan dini banjir. |
|
|
8. Irigasi : rancangan sni, pedoman |
|
|||
|
92 |
Tata cara operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi teknis |
Pd T-04-2003 |
Tata cara ini membahas tentang prosedur tata cara operasi jaringan irigasi teknis dalam satu wilayah pengelolaan, yang meliputi: rencana operasi dan prosedur operasi jaringan irigasi teknis. - Tata cara ini juga mencakup jenis dan penggunaan blangko-blangko dalam rangka pengoperasian jaringan irigasi teknis. |
- |
|
93 |
Tata cara pemeliharaan jaringan irigasi teknis |
RSNI T-03-2002 |
Tata cara ini membahas tetntang prosedur pemeliharaan jaringan irigasi teknis yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi. |
|
|
94 |
Pedoman teknik pembangunan kincir air tipe pusair untuk irigasi desa |
Pd. T-05-2004-A |
Pedoman teknik membangun kincir air tipe PUSAIR untuk irigasi desa ini mencakup : merancang dan membangun kincir air tipe PUSAIR, bangunan kincir air digunakan untuk penyediaan air terutama air irigasi desa dan pedoman ini tidak mencakup tinjauan terhadap social dan biaya. |
378 |
|
95 |
Perencanaan hidraulik dan operasi serta pemeliharaan bangunan penangkap air tipe pusair |
Pd. T-15-2004-A |
Pedoman teknik membangun kincir air tipe PUSAIR untuk irigasi desa ini mencakup : merancang dan membangun kincir air tipe PUSAIR, bangunan kincir air digunakan untuk penyediaan air terutama air irigasi desa dan pedoman ini tidak mencakup tinjauan terhadap sosial dan biaya. |
52 |
|
96 |
Monitoring dan evaluasi hasil penerapan teknologi modifikasi cuaca (TMC) dalam rangka pengisian waduk |
Pd. T-20-2004-A |
Pedoman monitoring dan evaluasi hasil penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dalam rangka pengisian waduk meliputi hal-hal sebagai berikut : a. Monitoring data yaitu pengumpulan data hidrologi sebelum, selama dan pasca pelaksanaan TMC. Data yang dikumpulkan terdiri dari : i. data karakteristik waduk-waduk seperti data tinggi muka air (TMA) waduk, tabel hubungan antara TMA dengan volume tampungan, tabel hubungan antara TMA dengan luas permukaan waduk; ii. data curah hujan dan contoh air hujan; iii. data debit sungai. b. Evaluasi terhadap hasil penerapan TMC yang meliputi analisis teknis hidrologi, analisis manfaat dan analisis kualitas air. |
18 |
|
97 |
Pengoperasian waduk kaskade pola listrik-listrik multiguna |
Pd. T-21-2004-A |
Pedoman Pengoperasian waduk kaskade pola listrik- listrik-multiguna meliputi : a. Pengumpulan data yang terdiri dari : 1. data debit aliran masuk ke masing-masing waduk, 2. data tinggi muka air (TMA) tiap waduk, 3. data kebutuhan air irigasi, 4. data hubungan antara TMA dengan volume tampungan dan 5. data rencana pemeliharaan turbin serta pintu-pintu air dari setiap waduk; b. Melakukan prediksi debit air masuk ke masing- |
22 |
|
No. |
Judul Standar |
Nomor Standar |
Ruang Lingkup |
Hal |
|
|
|
|
masing waduk untuk tahun yang akan datang; c. Membuat pola operasi waduk kaskade dengan prinsip pembagian berimbang (equal sharing). Melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan operasional tiap-tiap waduk yang telah dilakukan pada bulan sebelumnya. Evaluasi melibatkan para pengelola waduk dan semua pihak terkait dengan operasional waduk kaskade. |
|
|
98 |
Pedoman pengoperasian waduk tunggal |
Pd. T-25-2004-A |
Pedoman ini adalah untuk memudahkan perencana/ pelaksana pengoperasian dalam menyusun pola operasi serta pedoman pengoperasian suatu waduk. Pedoman ini menguraikan tentang pengoperasian waduk tunggal dengan berbagai hal-hal yang perlu diketahui/ ditentukan sebelumnya antara lain : 1. klasifikasi pemanfaatan waduk; 2. penentuan kapasitas waduk; 3. inflow ke waduk dan outflow dari waduk; 4. kendala yang dihadapi; 5. persamaan dasar simulasi waduk; 6. pendekatan dalam pola operasi; 7. metode dalam penyusunan pola operasi waduk; 8. prosedur pembuatan pola operasi waduk; 9. prosedur operasi waduk. |
24 |
|
99 |
Pengisian kekosongan data hujan dengan metode korelasi distandardisasi non linear bertingkat |
Pd. T-22-2004-A |
Pedoman pengisian data hujan dengan metode ini mencakup hubungan korelasi dan regresi antar seri data pengisi dan yang diisi. Penerapan pedoman ini memerlukan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi antara lain jumlah stasiun minimal 3 buah. Pedoman ini meliputi: data yang digunakan beserta persyaratannya, prosedur perhitungan, evaluasi perhitungan dan contoh perhitungannya. |
47 |
|
100 |
Pembangunan pembangkit listrik tenaga mikrohidro tipe mdccf di saluran irigasi. |
Pd. T-24-2004-A |
1. Panduan untuk merancang dan membangun pembangkit listrik tenaga mikrohidro dengan turbin tipe MdCCF seri 225-750, dan seri 300- 750; 2. Penggunaan pembangkit listrik tenaga mikrohidro ini terutama ditujukan untuk memanfaatkan potensi tenaga pada bangunan terjun dan got miring di saluran irigasi di desa-desa yang belum terjangkau listrik PLN; 3. Pedoman ini tidak mencakup bahasan untuk mendesain pembangkit listrik tenaga air turbin lain di saluran irigasi, dan tidak mencakup tinjauan sosial dan ekonomi. |
23 |
|
101 |
Penguatan masyarakat petani pemakai air dalam operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi |
Pd T-08-2005-A |
Pedoman ini menetapkan tata cara pelaksanaan operasi dan pemeliharaan (O&P) jaringan irigasi pada suatu daerah irigasi dalam hal ini, perkumpulan petani pemakai air dapat berperan serta. Pedoman ini berlaku khusus untuk irigasi tanaman pangan atau pertanian bukan rawa dan tambak. |
30 |
|
9. Pantai |
SK SNI M-38-1993-03 |
Metode pengukuran bathimetri menggunakan alat perum gema ini : 1) membahas persyaratan ketentuan-ketentuan dan cara pengaturan; 2) untuk perairan dengan kedalaman sampai 120 M. |
23 |
|
|
102 |
Metode pengujian bathimetri menggunakan alat perum gema |
|||
|
C. Jalan dan jembatan |
|
|
||
|
10. Aspal, asbuton, aspal karet, perkerasan jalan beraspal |
|
|||
|
103 |
Pedoman perencanaan tebal perkerasan lentur |
Pt T-01-2002-B |
Pedoman ini meliputi ketentuan umum perencanaan, uraian deskripsi, ketentuan teknis perencanaan, metode perencanaan dan contoh-contoh perencanaan. Pedoman ini hanya berlaku untuk konstruksi |
41 |
|
No. |
Judul Standar |
Nomor Standar |
Ruang Lingkup |
Hal |
|
|
|
|
perkerasan yang menggunakan material bergradasi lepas (granular material dan batu pecah) dan berpengikat. Pedoman ini digunakan untuk : o perencanaan perkerasan jalan baru o perencanaan pelapisan tambahan (overlay) o perencanaan konstruksi bertahap (stage construction). |
|
|
104 |
Pedoman asbuton campuran panas |
Pd T-07-2004-B |
Pedoman ini meliputi penyiapan campuran asbuton dengan cara panas terdiri dari campuran asbuton, agregat dan peremaja yang dicampur di Unit Pencampur Aspal. Pedoman ini juga meliputi penghamparan dan pemadatan campuran pada lapis pondasi antara dan lapis aus. |
34 |
|
105 |
Pelaksanaan pemasangan siar muai jenis asphaltic plug untuk jembatan |
Pd T-13-2005-B |
Pedoman ini menetapkan proses pelaksanaan pemasangan siar muai jenis asphaltic plug yang dimulai dari persiapan bahan dan peralatan, proses pencampuran, penghamparan dan pemadatan. Selain itu pedoman ini mengatur tata cara pengendalian dan pengujian mutu bahan maupun siar muai |
22 |
|
106 |
Tata cara pelaksanaan survai jalan Judul berubah menjadi : Tata cara survai titik referensi jalan |
PERMEN Nomor 17/PRT/M/2007 |
Tata cara ini digunakan untuk mendapatkan data mengenai lokasi jenis dan jarak antara titik-titik referensi pada suatu ruas jalan serta menentukan titik awal dan titik akhir dari ruas jalan tersebut yang akan digunakan pada survai-survai jalan berikutnya atau untuk keperluan lain dalam pembinaan jaringan jalan.
Pedoman ini memberikan arahan dalam pelaksanaan survei penentuan titik referensi jalan yang berfungsi sebagai titik acuan pengukuran jarak dalam pembinaan sistem jaringan jalan. Survei ini bertujuan untuk menginventarisasi titik-titik referensi yang berada dalam suatu ruas jalan serta menginventarisasi panjang suatu ruas jalan. Pedoman ini juga memuat tahapan pelaksanaan survei, ketentuan-ketentuan dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan survei yang menyangkut peralatan dan bahan, personil, serta kendaraan survei. Pedoman ini lebih difokuskan penggunaannya untuk ruas jalan antar kota. |
28 |
|
107 |
Tata cara pelaksanaan lapis asbuton agregat (lasbutag) Judul berubah menjadi : Penggunaan asbuton campuran dingin |
PERMEN Nomor 28/PRT/M/2007 |
Tata cara ini bertujuan untuk menyeragamkan cara pelaksanaan LASBUTAG agar diperoleh penggunaan bahan dan waktu yang efisien serta memenuhi mutu yang ditentukan.
Pedoman ini sebagai acuan perencanaan dan pelaksanaan asbuton butir campuran dingin, digunakan sebagai lapis aus dengan ukuran nominal 9,5 mm dan ukuran nominal 12,5 mm serta untuk lapis antara dengan ukuran nominal 19 mm pada perkerasan jalan beraspal dengan lalu lintas selama umur rencana < 1 juta ESA. |
47 |
|
108 |
Tata cara pelaksanaan survai kondisi jalan beraspal Judul berubah menjadi : Survei kondisi rinci jalan beraspal untuk jalan antar-kota |
Pd T-21-2004-B Revisi SNI 03-2844- 1992 |
Tata cara ini digunakan untuk mendapatkan data jenis dan tingkat kerusakan yang terjadi pada perkerasan, bahu, trotoar, saluran samping dan lereng pada jalan beraspal.
Pedoman ini mencakup tata cara survei kondisi rinci jalan beraspal untuk jalan antar-kota yang dilakukan secara manual (visual) serta pengukuran dengan alat sederhana. Pedoman ini terdiri dari persiapan survei |
38 |
|
No. |
Judul Standar |
Nomor Standar |
Ruang Lingkup |
Hal |
|
|
|
|
dan prosedur pelaksanaannya. Pedoman ini diharapkan dapat digunakan sebagai pendukung untuk melengkapi pangkalan data (data base) jalan antar- kota dan sebagai acuan dalam pelaksanaan pemeliharaan di lapangan serta penilaian kondisi hasil pekerjaan peningkatan atau pembangunan jalan beraspal baru. |
|
|
109 |
Survei kondisi jalan tanah dan atau kerikil |
PERMEN Nomor 15/PRT/M/2007 |
Pedoman ini mencakup tata cara survei kondisi jalan kerikil dan atau tanah (termasuk stabilisasi tanah dan atau kerikil) yang dilakukan secara manual (visual). Pedoman survei ini terdiri dari persiapan survei dan prosedur pelaksanaannya. Pedoman ini dapat digunakan sebagai pendukung untuk melengkapi pangkalan data (data base) jalan dan/atau acuan dalam pelaksanaan pemeliharaan serta penilaian hasil pekerjaan peningkatan atau pembangunan jalan baru. |
25 |
|
Metode uji |
RSNI M-04-2004 |
Cara uji kelarutan aspal secara khusus menguraikan alat dan bahan yang digunakan serta prosedur kerja untuk mendapatkan hasil kelarutan aspal. Cara uji dilakukan untuk menentukan derajat kelarutan dalam trichloroethylene (TCE) atau 1,1,1 trichloroethane pada bahan aspal yang tidak atau sedikit mengandung mineral. Pada cara uji ini dicantumkan pula langkah pengerjaan dan perhitungan jumlah aspal yang terlarut pada trichloroethylene (TCE) atau 1,1,1 trichloroethane. |
9 |
|
|
110 |
Cara uji kelarutan aspal |
|||
|
111 |
Cara uji ekstraksi aspal dari campuran beraspal menggu-nakan tabung refluks gelas |
RSNI M-05-2004 |
Cara ini membahas ketentuan pemisahan aspal dari campuran beraspal dengan cara refluks menggunakan tabung gelas. Aspal yang diperoleh dengan cara ini dapat digunakan untuk pemeriksaan sifat fisik aspal antara lain: penetrasi, daktalitas, titik lembek. |
|
|
112 |
Cara uji campuran beraspal panas untuk ukuran agregat maksimum dari 25,4 mm (1 inc) sampai dengan 38 mm (1,5 inci) dengan alat marshall |
RSNI M-06-2004 |
Pengujian ini meliputi pengukuran stabilitas dan pelelehan (flow) suatu campuran beraspal dengan butir agregat berukuran maksimum dari 25,5 mm (1 inci) sampai dengan 38 mm (1,5 inci). |
21 |
|
113 |
Cara identifikasi aspal emulsi kationik mantap cepat |
RSNI M-07-2004 |
Standar ini mencakup prosedur untuk mengidentifikasi aspal emulsi kationik mantap cepat, ditentukan berdasarkan ketidak mampuan aspal emulsi kationik mantap cepat untuk menyelimuti pasir lisika yang membedakan dari kelas kationik mantap sedang dan mantap lambat. |
|
|
114 |
Cara uji beban putus dan elongasi pada geotekstil dengan metode grab |
RSNI M-01-2005 |
Cara uji ini menetapkan prosedur uji indeks untuk menentukan beban putus dan elongasi pada geotekstil dengan menggunakan metode grab. Metode ini tidak cocok untuk geotekstil hasil rajutan yang dijahit. Untuk geotekstil jenis ini, harus digunakan metode uji alternatif pengganti. Meski berguna untuk pengendalian mutu dan pengujian penerimaan untuk suatu struktur serat tertentu, hasil pengujian sesuai standar ini hanya dapat digunakan untuk membandingkan kekuatan dan elongasi antara bahan dengan struktur serat yang sama sebab dalam pengujian ini bahan yang berbeda akan berunjuk kerja secara berbeda pula sesuai karakteristik bahan. |
16 |
|
115 |
Cara uji indeks tahanan tusuk geotekstil, geomembran dan produk sejenis lainnya |
RSNI M-02-2005 |
Standar ini menetapkan kaidah-kaidah dan cara mengukur indeks tahanan tusuk untuk menentukan karakteristik geotekstil, geomembran, dan produk sejenis lainnya. Metode pengujian yang dimuat pada standar ini tidak dapat digunakan untuk beberapa pengujian karakteristik geotekstil tipe anyaman atau |
15 |
|
No. |
Judul Standar |
Nomor Standar |
Ruang Lingkup |
Hal |
|
|
|
|
produk yang memiliki bukaan lubang besar, seperti Geonet dan Geogrid. |
|
|
116 |
Cara uji kuat keliman jahit atau ikat panas geotekstil |
RSNI M-03-2005 |
Standar ini menetapkan kaidah-kaidah dan langkah kerja dalam menilai kuat keliman geotekstil. Data yang dihasilkan dari cara uji ini berupa nilai tahanan keliman terhadap gaya tarik dalam posisi memanjang atau tegak lurus arah keliman. Substansi yang diatur dalam standar ini meliputi prinsip pengujian, peralatan, pengambilan contoh, penyiapan benda uji, prosedur, penghitungan dan laporan. Cara uji dalam standar ini menggunakan benda uji yang lebih sempit dibandingkan dengan benda uji yang digunakan dalam ASTM D 4884. |
17 |
|
117 |
Cara uji elastisitas aspal dengan daktilitas |
RSNI M-04-2005 |
Cara uji elastisitas aspal dengan alat daktilitas secara khusus menguraikan alat dan bahan yang digunakan serta prosedur kerja untuk mendapatkan nilai hasil elastisitas aspal khususnya aspal yang dimodifikasi polimer jenis elastomer. Alat yang digunakan sama dengan alat pada pengujian daktilitas aspal kecuali bentuk cetakannya yang dimodifikasi. |
25 |
|
118 |
Cara uji sifat tarik geotekstil dengan metode pita lebar |
RSNI M-05-2005 |
Standar ini meliputi pengukuran sifat-sifat tarik geotekstil dengan menggunakan benda uji berbentuk pita yang dijepit pada sisi lebarnya dimana dimensi lebarnya tersebut adalah besar. Cara uji ini dapat digunakan untuk hampir semua jenis geotekstil seperti geotekstil dengan bahan anyaman, bukan anyaman, geotekstil denganbahan berlapis, bahan yang dirajut, dan bahan yang diratakan. |
10 |
|
119 |
Penggunaan agregat slag besi dan baja untuk campuran beraspal panas |
Pd T-04-2005-B |
Pedoman ini mengatur tata cara penggunaan agregat slag besi dan baja pada proses pembuatan campuran beraspal panas yang meliputi persyaratan agregat slag besi dan baja, persyaratan bahan lainnya, perencanaan campuran dan pelaksanaan campuran. |
25 |
|
120 |
Perencanaan tebal lapis tambah perkerasan lentur dengan metode lendutan |
Pd T-05-2005-B |
Pedoman ini menetapkan kaidah-kaidah dan tata cara perhitungan lapis tambah perkerasan lentur berdasarkan kekuatan struktur perkerasan yang ada yang diilustrasikan dengan nilai lendutan. Pedoman ini memuat deskripsi berbagai faktor dan parameter yang digunakan dalam perhitungan serta memuat contoh perhitungan. Perhitungan tebal lapis tambah yang diuraikan dalam pedoman ini hanya berlaku untuk konstruksi perkerasan lentur atau konstruksi perkerasan dengan lapis pondasi agregat dengan lapis permukaan menggunakan bahan pengikat aspal. Penilaian kekuatan struktur perkerasan yang ada, didasarkan atas lendutan yang dihasilkan dari pengujian lendutan langsung dengan menggunakan alat Falling Weight Deflectometer (FWD) dan lendutan balik dengan menggunakan alat Benkelman Beam (BB). |
37 |
|
121 |
Perencanaan campuran lapis pondasi hasil daur ulang perkerasan lama dengan semen |
Pd T-08-2005-B |
Pedoman ini menetapkan persyaratan, ketentuan bahan, peralatan laboratorium, perencanaan campuran dan cara penentuan kadar semen campuran hasil daur ulang perkerasan lama dengan semen, sebagai lapis pondasi dan pondasi bawah. Jenis perkerasan yang di daur ulang mencakup perkerasan beraspal yang telah tua atau perkerasan beton semen. |
13 |
|
Spesifikasi |
|
|
|
|
|
No. |
Judul Standar |
Nomor Standar |
Ruang Lingkup |
Hal |
|
122 |
Spesifikasi aspal keras berdasarkan penetrasi |
RSNI S-01-2003 |
Spesifikasi ini mencakup, ketentuan, persyaratan aspal keras Pen 40, Pen 60 dan Pen 80, yang digunakan sebagai acuan dalam menilai mutu aspal keras untuk pekerjaan perkerasan. |
|
|
11. Jalan dan jembatan |
|
|
||
|
123 |
Pembebanan untuk jembatan |
RSNI T-02-2005 |
Standar ini menetapkan ketentuan pembebanan dan aksi-aksi lainnya yang akan digunakan dalam perencanaan jembatan jalan raya termasuk jembatan pejalan kaki dan bangunan-bangunan sekunder yang terkait dengan jembatan. Beban-beban, aksi-aksi dan metoda penerapannya boleh dimodifikasi dalam kondisi tertentu, dengan seizin pejabat yang berwenang. |
25 |
|
124 |
Perencanaan struktur baja untuk jembatan |
RSNI T-03-2005 |
Standar Perencanaan Struktur Baja untuk Jembatan ini digunakan untuk merencanakan jembatan jalan raya dan jembatan pejalan kaki di Indonesia, yang menggunakan bahan baja dengan panjang bentang tidak lebih dari 100 meter. |
126 |
|
125 |
Penanganan tanah ekspansif untuk konstruksi jalan |
Pd T-10-2005-B |
Pedoman ini merupakan tata cara penanganan tanah ekspansif untuk konstruksi jalan. Pedoman meliputi penjelasan mengenai ciri-ciri kerusakan jalan di atas tanah ekspansif, identifikasi tanah ekspansif, desain konstruksi jalan di atas tanah ekspansif serta teknik penanganan dengan metode penggantian material, manajemen air, stabilisasi, membran, geomembran dan pembebanan. Pedoman ini memberikan informasi dan petunjuk dalam merencanakan desain konstruksi, tetapi bukan merupakan petunjuk yang mendalam untuk desain detail. |
69 |
|
126 |
Stabilisasi dangkal tanah lunak untuk konstruksi timbunan jalan (dengan semen dan cerucuk) |
Pd T-11-2005-B |
Pedoman ini memberikan petunjuk mengenai prinsip- prinsip penggunaan stabilisasi dangkal dengan semen atau cerucuk dalam pembuatan konstruksi timbunan untuk jalan yang meliputi : kriteria penggunaan stabilisasi dangkal tanah lunak dengan semen atau cerucuk untuk desain timbunan jalan serta evaluasi dan aplikasinya pada timbunan jalan yang mengalami prakompresi; informasi tentang jenis dan karakteristik stabilisasi dangkal dengan semen atau cerucuk serta pembahasan parameter tanah; nterpretasi kondisi dan cara pemasangan serta desain stabilisasi dangkal dengan semen atau cerucuk. |
63 |
|
127 |
Perencanaan lantai jembatan rangka baja dengan menggunakan corrugated steel plate (csp) |
Pd T-12-2005-B |
Pedoman ini membahas masalah perencanaan sistem lantai jembatan rangka baja dengan menggunakan Corrugated Steel Plate (CSP). |
35 |
|
128 |
Perhitungan biaya operasi kendaraan Bagian 1. Biaya tidak tetap (running cost) |
Pd T-15-2005-B |
Pedoman ini merupakan panduan dalam melakukan perhitungan biaya operasi kendaraan (bok) pada ruas jalan. Dalam bagian i ini disajikan ketentuan-ketentuan dan cara-cara perhitungan komponen biaya tidak tetap (running cost). Pedoman ini mencakup uraian tentang ketentuan umum, ketentuan teknik, dan cara pengerjaan. |
30 |
|
129 |
Mitigasi dampak kebisingan akibat lalu lintas jalan |
Pd T-16-2005-B |
Pedoman ini menetapkan tata cara mitigasi dampak kebisingan akibat lalu lintas jalan yang meliputi penanganan pada sumber kebisingan, jalur perambatan, dan penerima kebisingan. Ketentuan- ketentuan yang diatur dalam pedoman ini meliputi bahan, dimensi, cara penempatan, dan prosedur mitigasi. Pedoman ini dimaksudkan sebagai acuan bagi perencana dan pelaksana lapangan dalam upaya penanggulangan dampak kebisingan yang terjadi |
40 |
|
No. |
Judul Standar |
Nomor Standar |
Ruang Lingkup |
Hal |
|
|
|
|
akibat lalu lintas jalan. |
|
|
130 |
Audit keselamatan jalan |
Pd T-17-2005-B |
Pedoman audit keselamatan jalan ini menetapkan ketentuan dan prosedur pelaksanaan audit keselamatan jalan mulai dari tahap perencanaan awal hingga tahap percobaan atau beroperasinya jalan tersebut secara penuh. Hal-hal yang diatur dalam pedoman ini, termasuk persyaratan umum, administratif, dan teknis pelaksanaan audit. Selain itu pedoman ini menguraikan tahapan pelaksanaan audit yang dilengkapi dengan daftar periksa yang diperlukan dalam pelaksanaan audit. |
62 |
|
131 |
Pra studi kelayakan proyek jalan dan jembatan |
Pd T-18-2005-B |
Pedoman pra studi kelayakan proyek jalan dan jembatan ini mencakup ketentuan umum, ketentuan teknis, dan cara pengerjaan pra studi kelayakan proyek jalan dan jembatan, baik untuk kegiatan peningkatan, maupun pembangunan jalan dan jembatan. |
32 |
|
132 |
Studi kelayakan proyek jalan dan jembatan |
Pd T-19-2005-B |
Pedoman ini mengatur tentang tindak lanjut dari kegiatan pra studi kelayakan untuk menganalisis secara lebih rinci beberapa alternatif rute terpilih yang diusulkan. Untuk proyek-proyek yang hanya melakukan studi kelayakan tanpa melalui kegiatan pra studi kelayakan, maka pelaksanaannya menggunakan kedua pedoman tersebut. |
37 |
|
133 |
Pengadaan tanah untuk pembangunan jalan |
Pd T-20-2005-B |
Pedoman ini mencakup ketentuan-ketentuan dan tata cara pengadaan tanah dalam penyiapan ruang milik jalan (RUMIJA) untuk pembangunan jalan umum maupun jalan tol. Pedoman ini berlaku untuk pengadaan tanah lebih besar dari 1 (satu) hektar maupun kurang dari 1 (satu) hektar. |
46 |
|
12. Jalan tol |
|
|
|
|
|
134 |
Analisis resiko investasi jalan tol |
Pd T-01-2005-B |
Pedoman ini menetapkan ketentuan dan tata cara dalam menilai resiko investasi jalan tol, yang mencakup hal-hal antara lain jenis-jenis resiko, pengelompokan resiko, analisis resiko dan penetapan faktor resiko investasi. Di samping itu dibahas pula mengenai teknik pengelolaan resiko dan alokasi resiko antara pemerintah dan swasta. Tata cara yang diuraikan dalam pedoman ini termasuk tahapan persiapan, pengumpulan data, perhitungan dan pelaporan serta contoh-contoh penggunaannya. |
30 |
|
135 |
Pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang di sekitar jalan tol |
Pd T-22-2005-B |
Pedoman pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang ini mencakup ketentuan umum, ketentuan teknis pemanfaatan ruang dan pengendalian ruang untuk kawasan budidaya disekitar jalan tol. Kawasan budidaya yang diatur meliputi pengaturan kawasan fungsional yaitu kawasan perumahan, kawasan perdagangan dan jasa, kawasan industri serta kawasan pariwisata. Pemanfaatan ruang untuk kawasan budidaya disekitar jalan tol akan menjadi lebih tertata dan tidak menimbulkan dampak langsung terhadap pelayanan jalan tol. Sedangkan kawasan lain yang memerlukan pengaturan seperti kawasan pendidikan, kawasan cagar budaya, kawasan militer, bandar udara dan sebagainya akan diatur dalam pedoman tersendiri. |
25 |
|
13. Lalu lintas |
|
|
||
|
136 |
Pedoman penempatan utilitas pada daerah milik jalan |
Pd T-13-2004-B |
Pedoman ini mengatur penempatan utilitas pada daerah milik jalan (DAMIJA) dan jembatan, yang untuk |
26 |
|
No. |
Judul Standar |
Nomor Standar |
Ruang Lingkup |
Hal |
|
|
|
|
utilitas yang sejajar jalan dan melintang jalan baik bawah maupun di atas tanah. |
|
|
137 |
Pedoman perencanaan geometrik jalan perkotaan |
RSNI T-13-2004 |
Tata cara ini meliputi deskripsi, ketentuan-ketentuan, dan cara pengerjaan perencanaan geometrik bagi pembangunan atau peningkatan suatu ruas jalan perkotaan. |
18 |
|
138 |
Tata cara perencanaan pemisah jalan |
Pd T-15-2004-B |
Tata cara ini memuat ketentuan-ketentuan teknis perencaan pemisah jalan. |
20 |
|
139 |
Tata cara pemasangan rambu dan marka jalan perkotaan |
Pd T-12-2004-B |
Tata cara ini membahas ketentuan-ketentuan pemasangan rambu dan marka jalan perkotaan. SK ini hanya untuk marka jalan saja. |
26 |
|
140 |
Tata cara perencanaan geometrik persimpangan sebidang |
Pt T-02-2002-B |
Tata cara ini meliputi deskripsi, ketentuan umum, ketentuan teknis dan cara pengerjaan persimpangan sebidang tanpa budaran (roundabout) dan perlintasan kereta api yang diperuntukan bagi perencanaan maupun perancangan. |
31 |
|
141 |
Marka jalan |
Pd T-12-2004-B |
Tata cara perencanaan marka jalan imengatur pengelompokkan marka jalan menurut fungsinya, bentuk dan ukuran, penggunaan serta penempatannya. Tata cara perencanaan marka jalan ini diterapkan dalam perencanaan ruas serta persimpangan jalan baik jalan dalam kota maupun jalan luar kota. |
25 |
|
142 |
Perambuan sementara untuk pekerjaan jalan |
Pd T-12-2003 |
Pedoman teknis perencanaan perambuan sementara bagi pekerjaan jalan, jembatan dan fasilitas prasarana perkotaan merupakan acuan atau tata cara untuk penempatan rambu sementara meliputi deskripsi, ketentuan umum, ketentuan teknis, dan tata cara perencanaan bagi pihak yang terkait dengan pekerjaan jalan. Pekerjaan jalan tersebut mengambil sebagian atau seluruh dari DAMIJA yang diperkirakan bisa menggangu arus lalu lintas dan keselamatan keselamatan pemakai jalan. |
26 |
|
143 |
Geometri jalan perkotaan Pedoman perencanaan geometrik jalan perkotaan |
RSNI T-13-2004 |
Tata cara ini meliputi deskripsi, ketentuan-ketentuan, dan cara pengerjaan perencanaan geometrik bagi pembangunan atau peningkatan suatu ruas jalan perkotaan. |
|
|
144 |
Penanganan kemacetan lalu lintas di jalan perkotaan |
Pd T-08-2004-B |
Pedoman teknis penanganan kemacetan lalu lintas di jalan perkotaan merupakan acuan dan pegangan bagi perencana maupun instansi yang berwenang dalam pembinaan jalan dan lalu lintas untuk melakukan penanganan kemacetan lalu lintas pada skala lokal. Model-model penanganan yang dicakup dalam pedoman ini merupakan hasil optimalisasi geometrik jalan, lingkungan dan tuntutan lalu lintas yang ada yang dilakukan melalui rekayasa dan manajemen lalu lintas. Pedoman ini meliputi deskripsi, ketentuan umum, ketentuan teknis, dan cara perencanaan serta penanganan kemacetan jangka pendek sebelum melakukan penanganan dengan rekayasa yang lebih kompleks, seperti penggunaan simpang tak sebidang atau pengaturan sistem jaringan. |
90 |
|
145 |
Penanganan lokasi rawan kecelakaan lalu lintas |
Pd T-09-2004-B |
Penanganan lokasi rawan kecelakaan lalu lintas ini menguraikan metode penanganan lokasi rawan kecelakaan lalu lintas yang terbagi kedalam empat tahapan penyelidikan, yaitu tahap identifikasi lokasi rawan kecelakaan, tahap analisis data, tahap pemilihan teknik penanganan serta tahap monitoring dan evaluasi. Pedoman ini disusun terdiri atas Ruang Lingkup, Acuan Normatif, Definisi dan istilah, Ketentuan umum, Ketentuan teknis, dan Prosedur Penanganan. |
61 |
|
No. |
Judul Standar |
Nomor Standar |
Ruang Lingkup |
Hal |
|
146 |
Perencanaan separator jalan |
Pd T-15-2004-B |
Pedoman perencanaan separator jalan ini mengatur tentang ketentuan umum dan ketentuan teknis yang menyangkut fungsi, penggunaan, penempatan, dimensi, lebar dan bukaan, serta cara/ prosedur perencanaannya. |
54 |
|
147 |
Survei inventarisasi geometri jalan perkotaan |
Pd T-16-2004-B |
Pedoman ini memuat tata cara tentang pelaksanaan survei dalam rangka mendapatkan data geometri dari jalan perkotaan termasuk persimpangan, akses jalan dan akses lahan, selain jalan bebas hambatan, yang meliputi : penampang melintang, alinyemen horisontal, alinyemen vertikal, dan penggunaan lahan sisi jalan. |
26 |
|
148 |
Perencanaan median jalan |
Pd T-17-2004-B |
Pedoman perencanaan media jalan ini mengatur tentang ketentuan umum yang menyangkut keberadaan dan fungsi serta ketentuan teknis lainnya, penempatan, ukuran dan bukan, serta cara/ prosedur perencanaannya. |
21 |
|
149 |
Penentuan klasifikasi fungsi jalan di kawasan perkotaan |
Pd T-18-2004-B |
Pedoman ini mencakup tata cara penentuan klasifikasi fungsi jalan di kawasan perkotaan, yang terdiri atas sistem jaringan primer dan sekunder, termasuk sistem jaringan jalan, ciri-ciri dan kriteria untuk fungsi ruas jalan. |
26 |
|
150 |
Survei pencacahan lalu liontas dengan cara manual |
Pd T-19-2004-B |
Pedoman ini mengatur tata cara pencacahan lalu lintas dengan cara manual pada ruas jalan dan persimpangan untuk berbagai tujuan penggunaan data, seperti analisis geometri, kinerja lalu lintas dan struktur perkerasan jalan maupun manajemen lalu lintas. Pedoman ini mencakup tata cara survei, organisasi, peralatan dan langkah-langkah pelaksanaan survei. |
28 |
|
151 |
Perencanaan bundaran untuk persimpangan sebidang |
Pd T-20-2004-B |
Pedoman ini mengatur kaidah-kaidah perencanaan geometri bundaran pada persimpangan sebidang. Pedoman ini memuat berbagai parameter yang digunakan untuk merancang berbagai jenis bundaran pada persimpangan sebidang. Pedoman ini juga memuat ketentuan berbagai besaran geometri komponen bundaran, seperti diameter bundaran, radius atau jari-jari masuk, lebar jalur masuk dan lajur putaran, dimensi pulau pemisah, ketentuan pemarkaan dan perambutan, fasilitas pejalan kaki dan fasilitas pendukung lainnya, termasuk penempatan halte dan drainase. |
34 |
|
152 |
Kriteria pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang di sepanjang jalan arteri primer antar kota. |
Pd S-01-2004-B |
Pedoman ini mencakup ketentuan umum, ketentuan teknis, kriteria pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang di sepanjang jalan arteri primer antar kota pada kawasan budidaya. Kriteria yang ada dalam pedoman ini merupakan perangkat operasionalisasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi dan Kabupaten. |
48 |
|
153 |
Survei kondisi rinci jalan beraspal di perkotaan |
Pd T-21-2004-B |
Pedoman ini mencakup tata cara survei kondisi rinci jalan beraspal di perkotaan yang melakukan secara manual (visual) termasuk kompilasi data. Tata cara survei ini terdiri dari persiapan survei dan produser pelaksanaannya. Pedoman ini diharapkan dapat digunakan sebagai pendukung untuk melengkapi pangkalan data (data base) jalan perkotaan. |
21 |
|
14. Lingkungan jalan/ perumahan |
|
|
||
|
154 |
Prediksi kebisingan akibat lalu lintas |
Pd T-10-2004-B |
Tata cara prediksi kebisingan akibat lalu lintas memuat prosedur penghitungan tingkat kebisingan di ruas jalan perkotaan dan antar kota yang diakibatkan oleh lalu lintas dengan menggunakan model prediksi Calcullation of Road Traffic Noise (CoRTN) serta |
23 |
|
No. |
Judul Standar |
Nomor Standar |
Ruang Lingkup |
Hal |
|
|
|
|
ketentuan-ketentuan umum maupun teknis berkaitan dengan pengukuran dan penghitungan parameter berpengaruh, penyajian hasil dan penilaian dampak kebisingan dari variabel-variabel berpengaruh dalam model prediksi kebisingan. |
|
|
155 |
Penanggulangan erosi permukaan lereng jalan dengan tanaman |
Pt T-04-2002-B |
Pedoman ini menentukan metode penanggulangan erosi permukaan lereng jalan dengan tanaman yang mencakup persyaratan tentang lereng jalan, tanaman, perencanaan pelaksanaan penanganan dan pemeliharaan. Pedoman ini juga mencakup pembuatan teras bila menggunakan tanaman penutup tanah sedang dan tanaman penutup tanah tinggi. |
24 |
|
156 |
Perhitungan kapasitas lingkungan |
Pd T-13-2003 |
Pedoman kapasitas lingkungan jalan ini merupakan suatu pedoman untuk melakukan perhitungan kapasitas lingkungan jalan di daerah perkotaan baik pada tahap perencanaan maupun pada tahap evaluasi suatu kegiatan peningkatan atau pembangunan jalan. |
|
|
15. Pemeliharaan rutin jalan dan jembatan |
|
|
||
|
157 |
Tata cara penyusunan program pemeliharaan jalan kota. |
|
Tata cara ini membahas ketentuan-ketentuan penyusunan program pemeliharaan jalan perkotaan. |
|
|
158 |
Inspeksi dan pemeliharaan drainase jalan |
Pd T-14-2005-B |
Pedoman ini menetapkan ketentuan-ketentuan dan tata cara Inspeksi dan Pemeliharaan Drainase jalan baik yang bersifat rutin maupun khusus. Substansi yang diatur dalam pedoman ini adalah inspeksi dan pemeliharaan saluran beserta sarana pelengkapnya, termasuk gorong-gorong untuk mengembalikan kinerja dan kondisinya sehingga dapat berfungsi sesuai perencanaan awal. |
30 |
|
159 |
Pemeriksaan inventarisasi jembatan |
Pd T-21-2005-B |
Pedoman ini mencakup tata cara pelaksanaan pemeriksaan inventarisasi jembatan, yang digunakan untuk memperoleh data administratif dan data teknis, pada jembatan-jembatan yang belum pernah didata dalam pemutahiran data, dan merupakan bagian dari data kondisi jembatan secara umum. |
49 |
|
160 |
Pemerikasaan peralatan unit produksi campuran berasphal (asphalt mixing plant) |
Pd T-03-2005-B |
Pedoman pemeriksaan peralatan unit produksi campuran beraspal ini menguraikan tentang tata cara pemeriksaan peralatan unit produksi campuran beraspal jenis timbangan, jenis menerus, jenis drum, dan tata cara kalibrasi bukaan bin dingin. Pedoman ini sebagai acuan dan pegangan bagi pelaksana, pengawas lapangan dan pihak lain yang berkepentingan dalam pelaksanaan campuran beraspal panas agar pengguna dapat mengetahui kondisi peralatan. |
41 |
|
161 |
Perhitungan besaran biaya kecelakaan lalu lintas dengan menggunakan metode the gross output (human capital) |
Pd T-02-2005-B |
Pedoman ini menetapkan prosedur untuk melakukan perhitungan besaran biaya kecelakaan lalu lintas pada ruas jalan kota dan jalan antar kota berdasarkan metode the gross output atau human capital. Pedoman ini menguraikan formula yang dipergunakan dalam perhitungan, ketentuan, dan asumsi yang diberlakukan untuk faktor-faktor dalam penghitungan besaran biaya kecelakaan lalu lintas. Selain itu, pedoman ini memberikan tuntunan untuk menghitung faktor-faktor penting yang digunakan dalam formula penghitungan biaya, berikut contoh penggunaannya. |
15 |
|
D. Cipta karya |
|
|
||
|
16. Kayu |
Metode ini menentukan sifat lentur potongan panel atau panel struktural yang berukuran sampai dengan (122 x 244) cm2 meliputi kayu lapis, papan lapis, papan serat teratur, venir komposit dan lapisan |
|
||
|
162 |
Metode pengujian lentur panel kayu struktural |
Pd M-18-2000-03 |
||
|
No. |
Judul Standar |
Nomor Standar |
Ruang Lingkup |
Hal |
|
|
|
|
komposit. |
|
|
163 |
Tata cara pemilahan kayu konstruksi secara masinal. |
Pd T-05-2004-C |
Tata cara ini memuat tentang pelaksanaan pemilihan kayu konstruksi secara masinal dan ketentuan yang harus digunakan meliputi istilah dan definisi, ketentuan, pelaksanaan, penentuan hasil pemilahan kayu konstruksi, penandaan dan pengelompkkan. |
6 |
|
164 |
Pengawetan kayu pada bangunan yang sudah berdiri dengan menggunakan pasak dan pentil injeksi. |
Pd T-06-2004-C |
Standar ini meliputi tata cara untuk pengawetan kayu balok dengan ukuran tebal > 5 cm dan lebar > 10 cm dari serangan organisme perusak pada bangunan yang sudah berdiri dengan menggunakan pestisida, yang mencakup definisi, ketentuan-ketentuan dan cara pengawetan. |
7 |
|
165 |
Tata cara pengawetan bambu dengan cara tekanan |
Pd T-07-2004-C |
Petunjuk teknis ini meliputi istilah, definisi, ketentuan, dan pelaksanaan pengawetan. |
11 |
|
17. Baja |
|
|
||
|
166 |
Spesifikasi baja berkekuatan tinggi dengan kadar alloy columbium vanadium rendah |
RSNI S-08-2004 |
Spesifikasi ini mencakup empat mutu baja structural berkekuatan tinggi dengan campuran Colombium- Vanadium berkadar rendah, berbentuk pelat, turap dan batang baja dengan mutu 42 (290 Mpa) dan mutu 50 (345 Mpa) dimaksudkan untuk konstruksi bangunan yang menggunakan paku keling, baut atau las pada konstruksi jembatan, bangunan, dan konstruksi lainnya. Baja dengan mutu 60 (415 Mpa) dan 65 (450 Mpa) dimaksudkan untuk konstruksi jembatan yang menggunakan paku keeling atau baut, konstruksi lainnya yang menggunakan paku keling, baut atau las. |
9 |
|
167 |
Spesifikasi baja berkekuatan tinggi dengan kadar alloy rendah yang mempunyai titik leleh minimum 345 mpa dan ketebalan 800 mm |
RSNI S-09-2004 |
Spesifikasi ini meliputi baja berkekuatan tinggi berkadar alloy rendah berbentuk profil, pelat dan batang untuk konstruksi yang menggunakan las, paku keeling atau baut terutama ditunjukan untuk digunakan pada jembatan dan bangunan yang dilas, dimana pengurangan berat dan penambahan durabilitas dianggap penting. Ketahanan korosi terhadap cuaca dari baja ini pada hamper segala jenis lingkungan relative lebih baik dari pada baja karbon structural dengan atau tanpa tambahan tembaga. Jika terekspos langsung terhadap cuaca, untuk beberapa pemakaian baja ini dapat digunakan tanpa dilapis cat. Spesifikasi ini dibatasi untuk material dengan ketebalan sampai dengan 200 mm. |
8 |
|
18. Tata ruang, kawasan |
Pt-T-32-2000-C |
Tata cara ini membahas ketentuan dan cara pengerjaan penyusunan skenario pembangunan perkotaan melalui kajian mengenai mengenai rencana tata ruang yang meliputi aspek fungsi kota, aspek kependudukan, aspek pemanfaatan ruang dan aspek pembangunan prasarana perkotaan. |
17 |
|
|
168 |
Tata cara penyusunan skenario pembangunan perkotaan dalam rangka penyusunan program pembangunan prasarana kota terpadu |
|||
|
169 |
Penilaian kesesuaian vertical rencana tata ruang |
Pd T-10-2004-C |
Pedoman ini menetapkan tujuan, proses, substansi, pelaku, keluaran, dan konsekwensi dari penilaian kesesuaian vertical penataan ruang. Penilaian kesesuaian ini dilakukan sebagai bagian dari rangkaian proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian penataan ruang guna tercapainya pembangunan yang mensejahterakan masyarakat dan berkelanjutan melalui upaya koordinasi, penyesuaian, pengendalian proses dan dampak dari pembangunan. Penilaian kesesuaian penataan ruang dilakukan oleh seluruh stakeholder pembangunan dan difasilitasi oleh pemerintah melalui Dinas Instansi terkait sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Keluaran dari kegiatan penilaian kesesuaian adalah rekomendasi substansi penyesuaian dan kesepakatan langkah |
30 |
|
No. |
Judul Standar |
Nomor Standar |
Ruang Lingkup |
Hal |
|
|
|
|
penyesuaian serta penetapan instansi yang bertanggung jawab atas konsekwensi dari penyesuaian yang harus dilakukan. |
|
|
170 |
Tata cara pelaksanaan dokumentasi bangunan dan kawasan yang dilestarikan |
Pd T-03-2004-C |
Tata cara ini mencakup cara dan lingkup dalam melaksanakan pendokumentasian bangunan dan kawasan yang memiliki nilai untuk dilestarikan, mencakup: gambar arsitektural berikut cara pengukuran, format photo dan gambar, dan penulisan serta penyimpanan data, yang dapat digunakan bagi kegiatan penelitian. Laporan histories juga merupakan upaya untuk menyatukan informasi, membuat kesimpulan mengenai bangunan yang akan didokumentasikan, baik melalui analisa terhadap bangunan itu sendiri dan sejarahnya, atau dengan memposisikan pada konteks yang tepat. Pendokumentasian bangunan dapat merupakan langkah awal dalam menentukan pelestarian bangunan, maupun merupakan aktivitas dari pelestarian itu sendiri (preserve by documenting). |
16 |
|
171 |
Penataan ruang kawasan reklamasi pantai |
Permen PU No. 40/PRT/M/2007 |
Pedoman ini mencakup ketentuan tentang persyaratan, perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, pengendalian pemanfaatan ruang, peran masyarakat, dan tata cara pelaksanaan penataan ruang di kawasan reklamasi pantai. Pedoman ini diperuntukkan bagi penyusunan penataan ruang kawasan reklamasi pantai di perkotaan, baik yang akan maupun yang sudah direklamasi. |
38 |
|
172 |
Kriteria teknis penataan ruang kawasan budidaya |
Permen PU No.41/PRT/M/2007 |
Pedoman ini dimaksudkan untuk menunjang penerapan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten dan Kota dalam hal pengelolaaan kawasan budidaya. Ruang lingkup materi pedoman ini membahas tentang pengelolaan kawasan budidaya di kawasan perdesaan dan kawasan perkotaan beserta fasilitas penunjangnya. Kawasan budidaya yang diatur dalam pedoman ini meliputi: 1) kawasan hutan produksi (termasuk hutan rakyat); 2) kawasan pertanian; 3) kawasan pertambangan; 4) kawasan peruntukan industri; 5) kawasan pariwisata; 6) kawasan permukiman; 7) kawasan perdagangan dan jasa. Fasilitas penunjang meliputi fasilitas sosial dan fasilitas fisik. |
42 |
|
19. Struktur bangunan |
|
|
|
|
|
173 |
Tata cara perbaikan struktur beton bertulang akibat kerusakan atau keropos dengan beton agregat prepak |
Pt-T-31-2000-C |
Tata cara ini mencakup : perbaikan komponen struktur beton bertulang yang mengalami kerusakan atau keropos akibat pelaksanaan pembetonan yang kurang baik dengan beton agregat prepak supaya komponen struktur ini dapat memenuhi mutu sesuai kriteria perencanaan. |
10 |
|
174 |
Spesifikasi untuk menghitung tahanan referensi bahan bangunan berbahan dasar kayu dan sambungan struktural untuk metode ”lrfd” |
RSNI S-07-2002 |
Spesifikasi ini mencakup prosedur untuk menghitung tahanan referensi bahan bangunan berbahan dasar kayu dan sambungan struktural untuk digunakan dalam desain factor beban dan tahanan (DFBT). Tahanan referensi yang diturunkan dari spesifikasi ini berlaku untuk desain struktur yang disebut dalam kombinasi beban dalam ASCE 7-88. |
10 |
|
175 |
Tata cara perencanaan konstruksi kayu indonesia |
RSNI T-02-2003 |
Tata cara ini meliputi persyaratan umum serta ketentuan teknis perencanaan dan pelaksanaan struktur kayu untuk bangunan gedung, atau struktur bangunan lain yang mempunyai kesamaan karakter dengan struktur bangunan gedung. |
120 |
|
No. |
Judul Standar |
Nomor Standar |
Ruang Lingkup |
Hal |
|
176 |
Pemeriksaan konstruksi bangunan beton bertulang pasca kebakaran |
Pd T-08-2004-C |
Pedoman teknis ini mencakup langkah-langkah pemeriksaan bangunan pasca kebakaran yang dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kerusakan struktur dengan melakukan serangkaian pemeriksaan baik secara visual, pengujian elemen struktur dan uji pembebanan, sehingga diperoleh gambaran kondisi fisik bangunan dan keandalan struktur berdasarkan sisa kekuatan yang ada. Petunjuk teknis ini menetapkan metode pemeriksaan bangunan setelah terbakar, untuk mengetahui kelayakan teknis dan derajat kerusakan yang dapat digunakan sebagai dasar dalam menetukan langkah perbaikan, perkuatan atau tindakan teknis lainnya dalam upaya pemanfaatan kembali. Pelaksanaan pemeriksaan bangunan pasca kebakaran harus dilakukan oleh tenaga ahli yang sesuai dengan bidangnya, dan hasilnya disyahkan oleh instansi yang berwenang. |
13 |
|
177 |
Spesifikasi kelas kekuatan kayu bangunan struktural yang dipilah secara masinal |
Pd S-01-2005-C |
Spesifikasi ini memuat ketentuan mengenai jenis, ukuran, persyaratan modulus elastisitas dan keteguhan lentur mutlak untuk kayu bangunan yang dipilah secara masinal. |
10 |
|
178 |
Metode pengujian kekuatan tekan aksial kayu dan bahan struktur bangunan berbasis kayu |
RSNI T-06-2005 |
Metode pengujian ini menyediakan prosedur-prosedur penurunan kekuatan tarik aksial kayu yang dipilah secara maksimal dan bahan struktur bangunan berbasis kayu yang digunakan secara struktural. |
5 |
|
179 |
Metode pengujian lentur posisi tegak kayu dan bahan struktur bangunan berbasis kayu |
RSNI T-07-2005 |
Metode pengujian ini menyediakan penurunan sifat lentur posisi tidak kayu dan bahan struktur bangunan berbasis kayu yang dipilah secara maksimal berdasarkan kekuatannya dengan pembebanan dua titik. |
8 |
|
180 |
Metode pengujian lentur posisi tidur kayu dan bahan struktur bangunan berbasis kayu dengan pembebanan titik ketiga |
RSNI M-09-2005 |
Metode pengujian ini mencakup penurunan keteguhan lentur dan modulus elastisitas posisi tidur kayu dan bahan struktur bangunan berbasis kayu yang dipilah secara maksimal pada pengujian lentur posisi tidur dengan pembebanan titik ketiga. |
8 |
|
181 |
Metode pengujian lentur posisi tidur kayu dan bahan struktur bangunan berbasis kayu dengan beban terpusat di tengah bentang |
RSNI M-10-2005 |
Metode pengujian ini menyediakan prosedur, penurunan modulus elastisitas bentang panjang dari kayu dan dan bahan struktur bangunan berbasis kayu yang mengalami lentur terpusat ditengah bentang. |
5 |
|
182 |
Metode pengujian kekuatan tarik aksial kayu dan bahan struktur bangunan berbasis kayu |
RSNI M-06-2005 |
Metode pengujian ini menyediakan prosedur-prosedur untuk penurunan kekuatan tekan aksial kayu yang digunakan secara struktural dari kayu ukuran komersial atau kayu yang dipotong dari kayu ukuran komersial. |
19 |
|
20. Rumah dan gedung, perumahan |
Tata cara ini digunakan dalam pekerjaan pasangan dan plesteran yang meliputi pemilihan bahan yang baik, cara penakaran bahan, pengadukan, perendam bata, pemasangan dan perawatan sehingga didapatkan suatu pasangan yang baik dan pengikatan yang sempurna. |
13 |
||
|
183 |
Tata cara pengerjaan pasangan dan plesteran dinding |
Pt-T-03-2000-C |
||
|
184 |
Tata cara perencanaan rumah darurat sistem knock down |
Pt T-08-2000-C |
Tata cara ini mencakup spesifikasi teknis dari bahan bangunan sistem knock down dan rencana anggaran dan biaya pembuatan rumah darurat sistem knock down. |
11 |
|
185 |
Tata cara penyusunan program pembangunan prasarana kota terpadu (P3KT). |
Pt-T-10-2000-C |
Tata cara in membahas persyaratan, ketentuan dan cara pengerjaan penyusunan program pembangunan prasarana kota terpadu meliputi perumusan rencana, perumusan program dan perumusan proyek yang memenuhi persyaratan teknis dan administrastif. |
10 |
|
186 |
Tata cara perhitungan harga satuan |
Pt-T-27-2000-C |
Tata cara ini memuat indeks bahan bangunan dan |
15 |
|
No. |
Judul Standar |
Nomor Standar |
Ruang Lingkup |
Hal |
|
|
pekerjaan lantai untuk bangunan rumah dan gedung |
|
indeks tenaga kerja yang dibutuhkan untuk tiap satuan pekerjaan lantai ubin PC, ubin keramik, marmer, granit, parkit, vinil, rel penggantung pintu dan kaca. |
|
|
187 |
Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan kunci, alat gantungan dan kaca untuk bangunan rumah dan gedung |
Pt-T-30-2000-C |
Tata cara ini memuat indeks bahan bangunan dan indeks tenaga kerja yang dibutuhkan untuk tiap satuan pekerjaan sesuai dengan spesifikasi teknis pekerjaan pemasangan kunci engsel, gerendel, kait angin, doorcloser, door stop, door holder, rel penggantung pintu dan kaca. |
12 |
|
188 |
Tata cara penyusunan skenario pembangunan perkotaan dalam rangka penyusunan program pembangunan prasarana kota terpadu |
Pt T-32-2000-C |
Tata cara ini membahas ketentuan dan cara pengerjaan penyusunan skenario pembangunan perkotaan melalui kajian mengenai rencana tata ruang yang meliputi aspek fungsi kota, aspek pendudukan, aspek pemanfaatan ruang dan aspek pembangunan prasarana perkotaan. |
28 |
|
189 |
Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan pengecatan dan finishing dinding untuk bangunan rumah dan gedung |
Pt-T-38-2000-C |
Tata cara ini memuat indeks bahan bangunan dan indeks tenaga kerja yang dibutuhkan untuk tiap satuan pekerjaan sesuai dengan spesifikasi tekis pekerjaan pengecatan tembok, pengecatan kayu, baja atau besi, pelitur dan pemasangan wall peper. |
13 |
|
190 |
Spesifikasi fasilitas tempat bermain di ruang terbuka lingkungan rumah susun sederhana |
Pt-S-01-2000-C |
Spesifikasi ini mencakup uraian tentang bentuk, dimensi fungsi, struktur dan kinerja dari komponen dan elemen fasilitas tempat bermain di ruang terbuka rumah susun sederhana untuk usia 1-5 tahun dan usia 6-12 tahun, pada lingkungan rumah susun yang mempunyai KDB 50 % dan KLB 1,25 atau dengan kepadatan maksimum = 1.736 jiwa/ha. |
11 |
|
191 |
Spesifikasi rumah sangat sederhana k-21 |
Pt-S-02-2000-C |
Spesifikasi ini mencakup persyaratan teknis tentang bentuk, ukuran bahan, elemen, komponen, fungsi, kekuatan, dan kinerja bangunan rumah sangat sederhana K-21 dan berlaku untuk bangunan yang didirikan diatas lahan kering. |
14 |
|
192 |
Spesifikasi rumah transmigrasi non panggung RTNP-36 dari kayu sistem siap |
Pt-S-03-2000-C |
Spesifikasi ini mencakup persyaratan teknis tentang bentuk, ukuran, bahan, elemen, komponen, fungsi, kekuatan dan kinerja bangunan RTNP-36 dan jamban keluarga dan berlaku untuk bangunan non panggung yang terbuat dari kayu dengan sistem sistem siap pakai, terutama dilahan kering dengan kemiringan 0- 15 %. |
19 |
|
193 |
Tata cara perencanaan sumur resapan air hujan untuk lahan pekarangan |
Pt T-22-2000-C |
Tata cara ini mencakup persyaratan teknis serta arahan dalam perencanaan saluran air hujan untuk lingkungan permukiman. |
17 |
|
194 |
Tata cara perencanaan saluran air hujan untuk lingkungan permukiman |
Pt T-23-2000-C |
Tata cara ini dapat digunakan sebagai acuan untuk menyusun rancangan peraturan-peraturan, standar- standar yang terkait dan kepentingan pelaksanaan pekerjaan di lapangan. |
19 |
|
195 |
Penerapan sistem penghijauan dilingkungan permukiman |
Pt T-12-2002-C |
Petunjuk teknis menguraikan istilah dan definisi, persyaratan teknis dan penerapan sistem penghijauan dengan tanaman jenis pohon, perdu dan rumput di kawasan permukiman. |
13 |
|
196 |
Penerapan drainase berwawasan lingkungan di kawasan permukiman |
Pt T-15-2002-C |
Pedoman teknis ini memuat pengertian, persyaratan umum dan teknis mengenai lokasi penempatan Sumur Resapan Air Hujan, Saluran Air Hujan dan retensi pada lapangan terbuka atau pada lapangan parkir di daerah permukiman atau perkantoran menggunakan paving block atau grass block. |
28 |
|
197 |
Tata cara pelaksanaan survai swadaya dalam penyeleng-garaan perumahan bertumpu pada kelompok (P2BPK) |
Pt T-20-2002-C |
Pedoman teknis ini dalam pelaksanaannya sesuai dengan jenis kegiatan Pembangunan Perumahan Bertumpu Pada Kelompok yang akan dilakukan, yaitu : pembangunan baru, pemugaran rumah, perbaikan lingkungan serta sosial, budaya, dan ekonomi |
23 |
|
No. |
Judul Standar |
Nomor Standar |
Ruang Lingkup |
Hal |
|
|
|
|
masyarakat setempat. |
|
|
198 |
Tata cara pembuatan proposal teknis dalam penyelenggaraan perumahan bertumpu pada kelompok (P2BPK) |
Pt T-21-2002-C |
Pedoman teknis ini meliputi : alasan pengadaan rumah, rangkuman rencana pembangunan, dan data pendukung. |
9 |
|
199 |
Tata cara pemilihan dan penentuan lokasi dalam penyelenggaraan perumahan bertumpu pada kelompok (P2BPK) |
Pt T-22-2002-C |
Pedoman teknis ini menguraikan kriteria-kriteria pemilihan dan penentuan lokasi perumahan agar harga rumah, biaya transportasi dan pengeluaran keperluan hidup lainnya relatif terjangkau oleh kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, khususnya untuk membangun perumahan melalui pola pembangunan bertumpu pada kelompok. |
15 |
|
200 |
Perencanaan tapak dalam penyelenggaraan perumahan bertumpu pada kelompok (P2BPK) |
Pt T-23-2002-C |
Petunjuk teknis ini memberikan petunjuk kepada kelompok mengenai tata cara serta ketentuan- ketentuan dalam menyusun rencana tapak melalui suatu perencanaan partisipatif dalam bentuk program P2BPK. Pedoman ini meliputi perencanaaan tapak pada pembangunan baru P2BPK. |
24 |
|
201 |
Tata cara perancangan rumah dalam penyelenggaraan perumahan bertumpu pada kelompok (P2BPK) |
Pt T-24-2002-C |
Pedoman teknis ini meliputi : · daftar keinginan kebutuhan ruang dan persyaratan besaran ruang minimum; · daftar keinginan pemilihan bahan bangunan dan struktur serta persyaratan bahan dan struktur; · daftar keinginan sarana dan utilitas bangunan serta persyaratan sarana dan utilitas bangunan rumah. |
31 |
|
202 |
Tata cara pelaksanaan pembangunan dalam penyeling-garaan perumahan bertumpu pada kelompok (P2BPK) |
Pt T-25-2002-C |
Pedoman teknis ini meliputi : 1. perencanaan pelaksanaan (pre construction); 2. pelaksanaan pembangunan (construction); 3. penga wasan/ pengendalian (controling). |
23 |
|
203 |
Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan persiapan |
RSNI T-12-2002 |
Standar ini meliputi pekerjaan : - pembuatan pondasi batu kali dalam berbagai komposisi spesi; - pemasangan anstamping/batu kosong; - pembuatan pondasi sumuran; - pembuatan tiang pancang. Tata cara ini memuat indeks bahan bangunan dan indeks tenaga kerja yang dibutuhkan untuk tiap satuan pekerjaan. |
|
|
204 |
Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan beton untuk konstruksi bangunan gedun dan perumahan |
RSNI T-02-2006-C |
Standar ini meliputi pekerjaan : - pembuatan beton tumbuk dan beton normal untuk pekerjaan beton bertulang; - pembuatan tiang pancang dan prestres beton; - pemasangan water stop dan bekisting berbagai komponen struktur bangunan; - pembuatan sloop, kolom praktis dan ring balok. Tata cara ini memuat indeks bahan bangunan dan indeks tenaga kerja yang dibutuhkan untuk tiap satuan pekerjaan. |
21 |
|
205 |
Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan penutup lantai dan dinding untuk konstruksi bangunan gedung dan perumahan |
RSNI T-03-2006-C |
Standar ini menetapkan indeks bahan bangunan dan indeks tenaga kerja yang dibutuhkan untuk tiap satuan pekerjaan penutup lantai dan dinding yang dapat dijadikan acuan dasar yang seragam bagi para pelaksana pembangunan gedung dan perumahan dalam menghitung besarnya harga satuan pekerjaan penutup lantai dan dinding untuk bangunan gedung dan perumahan.
Jenis pekerjaan penutup lantai dan dinding yang ditetapkan meliputi : (1) pekerjaan pemasangan lantai keramik, ubin abu- abu, teraso dan marmer; (2) pekerjaan pemasangan vinyl dan karpet; |
|
|
No. |
Judul Standar |
Nomor Standar |
Ruang Lingkup |
Hal |
|
|
|
|
(3) pekerjaan pemasangan pelapis dinding dengan bahan keramik; (4) pekerjaan pemasangan plint dari ubin/Keramik dan plint dari kayu. |
|
|
206 |
Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan besi dan alumunium untuk konstruksi bangunan gedung dan perumahan |
RSNI T-04-2006-C |
Standar ini menetapkan indeks bahan bangunan dan indeks tenaga kerja yang dibutuhkan untuk tiap satuan pekerjaan alumunium yang dapat dijadikan acuan dasar yang seragam bagi para pelaksana pembangunan gedung dan perumahan dalam menghitung besarnya harga satuan pekerjaan besi dan alumunium untuk bangunan gedung dan perumahan.
Jenis pekerjaan besi dan alumunium yang ditetapkan meliputi : a) pekerjaan pemasangan rangka dan talang; b) pekerjaan pemasangan pintu atau jendela besi, pintu alumunium dan jendela nako, pintu gulung, pintu lipat sunscreen, venation blinds dan vertical- horizontal blinds; c) pekerjaan pemasangan kawat nyamuk. |
|
|
207 |
Tata cara perencanaan dan pelaksanaan bangunan gedung menggunakan panel jarring kawat baja tiga dimensi (PJKB-3D) las pabrikan |
RSNI T-05-2006-C |
Standar tata cara perencanaan dan pelaksanaan bangunan gedung dengan menggunakan panel jaring kawat baja tiga dimensi (PJKB-3D) las pabrikan ini meliputi perencanaan struktur dan konstruksi serta pengawasan pelaksanaan di lapangan. Standar ini digunakan untuk bangunan lebih tinggi dari dua lantai, maka kekuatan strukturnya harus dihitung oleh perencana struktur dan disetujui oleh pejabat yang berwenang. |
|
|
208 |
Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan pipa dan saniter |
RSNI T-15-2002 |
Standar ini meliputi pekerjaan : - pemasangan kloset duduk, klosest jongkok, badcuip, urinoir, bak mandi fibreglas, bak cuci piring, wastafel dan floor drain; - pembuatan bak air dari pasangan batu bata dan teraso; - pemasangan pipa saniter air kotor dan air bersih. Tata cara ini memuat indeks bahan bamngunan dan indeks tenaga kerja yang dibutuhkan untuk tiap satuan pekerjaan. |
20 |
|
209 |
Perencanaan saluran air hujan pracetak berlubang untuk lingkungan permukiman. |
Pt T-01-2003-C |
Petunjuk teknis ini memuat istilah dan definisi, persyaratan umum dan teknis, perhitungan debit limpahan, perhitungan dimensi saluran, serta contoh perhitungan. |
21 |
|
210 |
Pemeliharaan bangunan gedung |
Pd T-09-2004-C |
Tata cara disusun sebagai acuan bagi para pelaksana pemeliharaan bangunan gedung selama gedung dioperasikan, yang memuat cara dan persyaratan teknis yang dibutuhkan untuk memelihara komponen dan utilitas bangunan. |
16 |
|
211 |
Perencanaan rumah maisonet |
Pd T-01-2005-C |
Pedoman ini digunakan sebagai acuan dalam perencanaan rumah maisonet, sebagai arahan desain dan spesifikasi teknis yang diperuntukkan bagi para perencana pembangunan perumahan. Pedoman ini tidak digunakan untuk acuan perencanaan rumah maisonet split, maupun untuk rumah maisonet susun tumpuk. |
10 |
|
212 |
Tata cara pemilihan lokasi prioritas untuk pengembangan perumahan dan permukiman di kawasan perkotaan |
Pd T-03-2005-C |
Tata cara ini merupakan pedoman dalam menentukan lokasi prioritas untuk pengembangan perumahan dan permukiman yang meliputi: acuan dalam menentukan lokasi prioritas untuk penataan kawasan permukiman |
45 |
|
No. |
Judul Standar |
Nomor Standar |
Ruang Lingkup |
Hal |
|
|
|
|
yang sudah ada serta acuan dalam menentukan lokasi prioritas untuk pembangunan lokasi perumahan – permukiman baru pada lahan kosong atau lahan yang sebelumnya tidak dipergunakan sebagai fungsi hunian, mencakup perumahan - permukiman tidak bersusun dan bersusun. |
|
|
21. Keselamatan bangunan, kebakaran, gempa |
Tata cara ini mencakup klasifikasi singkat kerusakan dan jenis pemeriksaan, serta berlaku untuk semua jenis bangunan kecuali untuk bangunan rumah yang tingginya kurang dari 2 tingkat. |
44 |
||
|
213 |
Tata cara pemeriksaan bangunan pasca kebakaran |
Pt-T-01-2000-C |
||
|
214 |
Tata cara perencanaan rumah sederhana tahan gempa |
Pt-T-02-2000-C |
Tata cara ini merupakan salah satu langkah yang diperlukan dalam rangka mengurangi resiko kerusakan. |
17 |
|
215 |
Tata cara perbaikan kerusakan bangunan perumahan rakyat akibat gempa bumi |
Pt-T-04-2000-C |
Tata cara ini digunakan mengembalikan bentuk arsitektur bangunan agar semua peralatan/ perlengkapan dapat berfungsi kembali. |
28 |
|
216 |
Standar pasokan air untuk pemadam kebakaran di permukiman kota dan sekitarnya |
RSNI S-10-2002 |
Standar ini dimaksudkan untuk mengidentifikasikan dan menetapkan kebutuhan minimum pasokan air untuk pemadam kebakaran di permukiman kota dan kawasan sekitarnya yang tidak memiliki sistem jaringan hidran kebakaran yang mencukupi dan andal, sehingga air harus diangkut dari sungai, danau, kanal, teluk, sungai kecil, kolam, sumur, waduk atau sumber air serupa lainnya yang tersedia sebagai pasokan hisap. |
8 |
|
217 |
Tata cara pengklasifikasian jenis penggunaan bangunan berdasarkan peringkat ancaman bahaya kebakaran |
RSNI T-11-2002 |
Standar ini menjelaskan suatu cara untuk mengestimasi ancaman bahaya relatif terhadap keselamatan jiwa yang diakibatkan oleh kebakaran sesuai jenis penggunaan bangunan. |
19 |
|
218 |
Tata cara perencanaan ruang dan aksesibilitas bangunan bagi pengguna kursi roda |
RSNI T-20-2004 |
Standar ini memuat persyaratan perencanaan dan perancangan bangunan dan fasilitasnya untuk memberikan pelayanan bagi pengguna kursi roda. Persyaratan bangunan sesuai fungsi ruang dan perletakan benda-benda di dalamnya. Ruang bangunan dapat memberikan kemudahan jangkauan vertical, horizontal dan memutar, serta memberikan keleluasaan gerak atau sirkulasi antara pengguna kursi roda dengan pengunjung lainnya. |
23 |
|
219 |
Proteksi pada peralatan komputer, elektronik/ pengolah data |
RSNI S-07-2004 |
Pedoman ini meliputi persyaratan untuk memproteksi computer elektronik sebagai peralatan pengolah data termasuk persyaratan konstruksi bangunan, ruangan, area, atau lingkungan operasional yang khusus dan proteksi peralatan dari bahaya kebakaran. |
|
|
220 |
Metode uji ketahanan api pintu rakitan |
RSNI M-08-2004 |
Standar ini digunakan untuk pintu rakitan dari berbagai bahan dan jenis konstruksi yang digunakan pada bukaan dinding untuk menghambat penjalaran api. Pengujian yang dilakukan sesuai dengan metode ini akan mencatat kinerja dari pintu rakitan selama pengujian berlangsung, tetapi pengujian seperti ini tidak menjelaskan ketentuan penyesuaian untuk digunakan setelah terbakar. |
21 |
|
221 |
Pemeriksaan awal kerusakan bangunan beton bertulang akibat gempa |
Pd T-11-2004-C |
Petunjuk teknis ini digunakan untuk memeriksa dan mengevaluasi kerusakan bangunan beton bertulang atau bangunan dinding pemikul yang mengalami kerusakan akibat gempa. |
17 |
|
222 |
Perancangan komponen arsitektural, mekanikal dan elektrikal terhadap beban gempa |
Pd T-12-2004-C |
Pedoman ini meliputi persyaratan pada perancangan komponen arsitektural, mekanikal, dan elektrikal dengan batasan sebagai berikut : i. berat komponen sekunder dibatasi di bawah 20 persen dari berat mati total lantai yang dibebani; |
21 |
|
No. |
Judul Standar |
Nomor Standar |
Ruang Lingkup |
Hal |
|
|
|
|
ii. berat komponen sekunder dibatasi di bawah 10 persen dari berat mati total strukturnya. Untuk komponen sekunder yang beratnya melebihi tersebut di atas harus dihitung secara tersendiri, dan tidak termasuk yang diatur dalam petunjuk teknis ini. |
|
|
223 |
Perbaikan kerusakan bangunan sederhana berbasis dinding pasangan pasca kebakaran |
Pd T-13-2004-C |
Petunjuk teknis ini memberikan penjelasan cara perbaikan bangunan sederhana berbasis dinding pasangan yang mengalami kerusakan ringan hingga kerusakan berat akibat peristiwa gempa atau mengalami kerusakan sejenis akibat peristiwa selain gempa. |
24 |
|
224 |
Pendetailan konstruksi rumah tinggal sederhana tahan gempa berbasis pasangan |
Pd T-14-2004-C |
Petunjuk teknis ini berisi pendetailan konstruksi rumah tinggal sederhana tidak bertingkat tahan gempa dengan pemikul beton bertulang atau pasangan. |
20 |
|
225 |
Metode penyusunan pos-pos kebakaran berdasarkan hasil analisis resiko kebakaran dalam wilayah manajemen kebakaran perkotaan |
Pd M-01-2004-C |
Metode ini mencakup langkah-langkah penyusunan pos-pos kebakaran berdasarkan hasil analisis resiko kebakaran dalam wilayah manajemen kebakaran (WMK) perkotaan untuk melengkapi ketentuan pada Kepmeneg PU No. 11/ KPTS/ 2000, yaitu ketentuan teknis manajemen kebakaran perkotaan. Manajemen penanggulangan kebakaran kota meliputi upaya proteksi kebakaran kota yang akan dipenuhi dengan adanya instansi kebakaran kota sebagai suatu public service dalam suatu WMK. Sedangkan Manajemen Penanggulangan kebakaran lingkungan dan manajemen penanggulangan kebakaran pada bangunan gedung lebih merupakan partisipasi masyarakat dalam menyediakan proteksi kebakaran di sekitarnya. |
34 |
|
226 |
Perencanaan rambu-rambu di dalam bangunan gedung |
Pd T-02-2005-C |
Pedoman ini digunakan sebagai petunjuk dalam perancangan rambu-rambu di dalam bangunan gedung umum, supaya memudahkan pejalan kaki berjalan menuju area ruang, ruang atau tempat tertentu, serta mendapatkan pesan tentang peraturan, peringatan dan informasi yang diperlukan. Pedoman ini meliputi tata cara : peletakan, penentuan dimensi, penggunaan huruf, penggunaan simbol, penggunaan warna. |
22 |
|
227 |
Pemeriksaan keselamatan kebakaran bangunan gedung |
Pd T-11-2005-C |
Pedoman ini mencakup langkah-langkah pemeriksaan keselamatan bangunan terhadap bahaya kebakaran yang dimaksudkan untuk mengetahui tingkat keandalan dengan melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap kelengkapan upaya pencegahan kebakaran yang bersifat aktif, pasif, sehingga diperoleh informasi tingkat keandalan dari bangunan tersebut. |
31 |
|
228 |
Rencana tindak darurat kebakaran pada bangunan gedung |
Pd T-12-2005-C |
Pedoman ini mencakup petunjuk dalam pembuatan rencana untuk memperkecil kemungkinan timbulnya kebakaran dan meminimalkan dampak keadaan darurat yang ditimbulkannya melalui deteksi dini, peringatan, tindakan penanggulangan, prosedur penyelamatan/evakuasi, serta komunikasi darurat, bagi semua personil yang bekerja atau berada di dalam gedung maupun pihak manajemen dalam melaksanakan tindakan menghadapi keadaan darurat akibat kebakaran di gedung tersebut. |
28 |
|
229 |
Pembuangan asap dan panas akibat kebakaran |
RSNI T-04-2005 |
Standar ini mencakup tata cara perancangan sistem pembuangan darurat produk pembakaran dari kebakaran dalam bangunan gedung. Pasal 4 sampai dengan 10 berlaku untuk bangunan satu lantai tanpa springkler dengan metode perhitungan secara manual maupun berbasis komputer, sedangkan pasal 11 |
35 |
|
No. |
Judul Standar |
Nomor Standar |
Ruang Lingkup |
Hal |
|
|
|
|
berlaku bagi bangunan yang menggunakan springkler. |
|
|
230 |
Metode pengujian penyerapan bunyi pada bahan akustik dengan metode tabung |
RSNI T-05-2005 |
Standar ini meliputi ketentuan metode uji untuk mengukur faktor penyerapan bunyi yang datang tegak lurus terhadap suatu bahan akustik. |
18 |
|
22. Air bersih, air minum, plambing |
Tata cara ini digunakan untuk menjamin pelaksanaan penilaian kinerja PDAM secara menyeluruh untuk memperoleh klasifikasi kinerja PDAM bagi keperluan penilai. |
101 |
||
|
231 |
Tata cara penilaian kinerja PDAM |
Pt T-24-2000-C |
||
|
232 |
Tata cara pengoperasian dan pemelihaan terminal air |
Pt T-25-2000-C |
Tata cara ini digunakan untuk memperoleh kontinuitas operasi dan lama masa operasi sesuai dengan perencanaan, bagi penanggungjawab terminalair. Tata cara ini memuat ketentuan-ketentuan mengenai penanggung. |
10 |
|
233 |
Tata cara pemeliharaan jaringan pipa transmisi dan pipa distribusi air minum |
Pt T-26-2000-C |
Tata cara ini digunakan untuk memperoleh kelangsungan kinerja pipa transmisi, distribusi dan perlengkapannya, bagi keperluan pengelola. Tata cara ini memuat ketentuan tentang pemeliharaan, jaringan pipa transmisi dan distribusi, teknis, peralatan dan bahan. |
21 |
|
234 |
Tata cara pembubuhan kaporit pada unit pipa |
Pt T-28-2000-C |
Tata cara ini memuat tentang ketentuan bahan, peralatan, pembubuhan, pendosisan, penyimpanan dan cara pembubuhan kaporit ke dalam instalasi penjernihan. |
17 |
|
235 |
Tata cara pembubuhan gas khlor pada unit pipa ipa |
Pt T-29-2000-C |
Tata cara ini memuat tentang ketentuan pengangkutan, penyimpanan, peralatan, bahan, cara pembubuhan dan penanganan kebocoran gas klhor. |
14 |
|
236 |
Tata cara pemeliharaan pompa tangan dangkal untuk air bersih |
Pt T-33-2000-C |
Tata cara ini mencakup ketentuan pemeliharaan pompa tangan dangkal dan cara pengerjaannya. |
11 |
|
237 |
Tata cara pengoperasian dan pemeliharaan bangunan pengaduk lambat secara mekanis pada ipa |
Pt T-34-2000-C |
Tata cara ini memuat ketentuan mengenaiteknisi, bahan, fungsi dan peralatan bangunan pengaduk lambat secara mekanis. |
22 |
|
238 |
Tata cara overhaul pompa sentrifugal dan submersibel pada sarana sistem penyediaan air bersih |
Pt T-35-2000-C |
Tata cara ini mencakup pemeriksaan, bongkar pasang, bahan suku cadang, peralatan dan teknisi. |
25 |
|
239 |
Tata cara pengoperasian dan pemeliharaan mobil tangki untuk air minum |
Pt T-36-2000-C |
Tata cara ini memuat ketentuanteknisi, peralatan, bahan dan suku cadang serta cara pengoperasian dan pemeliharaan |
14 |
|
240 |
Tata cara perencanaan air bersih pedesaan dengan kran umum |
Pt T-20-2000-C |
Tata cara ini mencakup ketentuan dan persyaratan dalam penilaian desa, tahapan perencanaan dan perencanaan teknis air bersih pedesaan dengan kran umum. |
39 |
|
241 |
Tata cara dasar perencanaan plambing untuk air minum, air limbah dan air hujan |
Pt T-21-2000-C |
Tata cara ini berlaku bagi sistem plambing dan bagian dari padanya yang dipasang didalam persil gedung dan bangunan untuk hunian yang dipasang. Tata cara ini digunakan dalam pemasangan instalasi perpipaan mengenai air minum, air limbah, dan air hujan dengan perlengkapannya yang melayani hunian pada gedung dan persil. |
130 |
|
242 |
Spesifikasi bak penampung air hujan untuk air bersih dari ferro semen |
Pt S-04-2000-C |
Spesifikasi ini memuat pengertian dan persyaratan teknis bak ferrosemen untuk menampung air hujan untk air bersih yang mencakup bentuk, ukuran, bahan, fungsi dan kekuatan atau struktur dengan kapasitas 2 m3 sampai dengan 10 m3. |
13 |
|
243 |
Spesifikasi bak penampung air hujan untuk air bersih dari pasangan bata |
Pt S-05-2000-C |
Spesifikasi ini memuat pengertian dan persyaratan teknis bak penampung air hujan dari pasangan bata untuk air bersih yang mencakup bentuk, ukuran, bahan, fungsi dan kekuatan atau struktur dengan kapasitas 2m³ sampai dengan 10 m³. |
13 |
|
244 |
Tata cara penanggulangan air |
Pt T-60-2000-C |
Tata cara ini mencakup pengawasan kebocoran pipa |
27 |
|
No. |
Judul Standar |
Nomor Standar |
Ruang Lingkup |
Hal |
|
|
minum |
|
transmisi dan distribusi, ketentuan mengenai identifikasi kebocoran, peralatan, bahan pelaksana dan cara pengerjaan. |
|
|
245 |
Pemanfaatan pompa hidram dalam penyediaan air bersih |
Pt T-11-2002-C |
Pedoman teknis ini meliputi istilah dan definisi, pemilihan lokasi dan pemasangan, pengoperasian dan pemeliharaan pompa hidram sistem tunggal. |
31 |
|
246 |
Sistem penyediaan air bersih komersil untuk permukiman |
Pt T-14-2002-C |
* Pedoman teknis ini sebagai pegangan atau acuan dalam penerapan penyedian air bersih komersial di lingkungan permukiman. * Pedoman teknis ini bertujuan untuk pemerataan pelayanan air bersih di suatu kawasan permukiman dan dengan maksud untuk menghindari pencemaran sumber air di lingkungan permukiman sehingga kesehatan masyarakat meningkat. |
20 |
|
247 |
Penanganan air bersih dan plp di pesantren |
Pt T-18-2002-C |
Pedoman teknis ini mencakup kebutuhan air, timbulan sampah, penentuan teknologi di Pondok Pesantren yang meliputi : air bersih, persampahan, drainase, air limbah, dan MCK. |
27 |
|
248 |
Tata cara perencanaan penye-diaan air bersih dengan destilasi surya atap kaca (DSAK) |
Pt T-03-2003-C |
Spesifikasi ini mencakup istilah dan definisi, persyaratan teknis mengenai bentuk, ukuran, dan bahan destilator surya atap kaca (DSAK) untuk kapasitas 5 liter/ hari. |
16 |
|
249 |
Spesifikasi destilasi surya atap kaca (DSAK) |
Pt S-01-2003-C |
Petunjuk Teknis ini meliputi perencanaan dan perhitungan sistem destilator surya atap kaca, dengan kapasitas maksimum 5 liter/ hari. |
31 |
|
250 |
Tata cara perencanaan plambing |
RSNI T-01-2003 |
Tata Cara Perencanaan ini mencakup : 1) sistem plambing yang baru untuk air minum, air buangan, ven dan air hujan pada gedung sampai dengan pipa persil; 2) sistem plambing yang baru direncanakan untuk perubahan atu penambahan terhadap sistem plambing pada gedung yang sudah dibangun sebelum SNI ini diberlakukan. |
|
|
251 |
Tata cara pemeliharaan system plambing |
RSNI T-15-2004 |
Tata cara ini mencakup persyaratan umum, persyaratan teknik, cara pemeliharaan berupa tindakan pemeriksaan dan pembersihan pada system plambing air minum, air limbah, air hujan, dan perlengkapannya. |
16 |
|
252 |
Tata cara perencanaan instalasi pengolahan air system berpindah- pindah (mobile) |
Pd T-01-2004-C |
Tata cara ini meliputi istilah dan definisi serta persyaratan yang berlaku untuk instalasi pengolahan air untuk air minum sistem berpindah-pindah kapasitas 0,5 – 1 Liter/ detik yang dapat memenuhi kebutuhan masak dan minum bagi 500-1000 orang. |
15 |
|
253 |
Tata cara pengadaan, pemasangan dan pengujian pipa pvc untuk air limbah di dalam bangunan gedung |
RSNI T-16-2004 |
Tata cara ini memuat : d) cara pengadaan dan pemasangan pada jaringan pipa air limbah rumah tangga, air hujan dan fitingnya, tidak termasuk air limbah non rumah tangga; e) pemasangan pipa PVC dan fitingnya dapat disambungkan dengan bahan pipa jenis lain. |
17 |
|
254 |
Tata cara pengadaan, pemasang- an dan pengujian pipa pvc untuk penyediaan air minum |
RSNI T-17-2004 |
Tata cara ini mencakup : a) penanganan pipa termasuk di dalamnya cara penyimpanan dan pengangkutan; b) pemasangan pipa sebagai penyaluran air minum; c) pengaliran air di bawah tekanan sampai suhu 45 0C untuk penyediaan air minum; d) pengujian kekuatan pipa PVC terhadap tekanan hidrostatik di lapangan. |
19 |
|
255 |
Spesifikasi instalasi pengolahan air system berpindah-pindah (mobile) |
Pd S-01-2004-C |
Spesifikasi ini mencakup istilah dan definisi, persyaratan teknis tentang bentuk, ukuran, bahan, dan |
18 |
|
No. |
Judul Standar |
Nomor Standar |
Ruang Lingkup |
Hal |
|
|
kapasitas 0,5 l/ detik |
|
fungsi. Spesifikasi teknis ini dimaksudkan sebagai acuan bagi perencana dan pelaksana untuk pembuatan instalasi pengolahan air system berpindah-pindah, yang bertujuan untuk memberikan kemudahan-kemudahan dalam pelaksanaannya. |
|
|
256 |
Penyediaan air minum berbasis masyarakat (PAM BM) Volume 1. Pedoman umum |
Pd T-05-2005-C |
Pedoman ini meliputi ketentuan umum dalam penyelenggaraan, kelembagaan, pembiayaan, pembangunan prasarana dan sarana serta pemantauan dan evaluasi dalam upaya penyediaan air minum berbasis masyarakat. |
15 |
|
257 |
Penyediaan air minum berbasis masyarakat (PAM BM) Volume 2. Pedoman penyelenggaraan |
Pd T-06-2005-C |
Tata cara penyelenggaraan yang mencakup uraian yang menyangkut pelaku terkait dan tahapan kegiatan serta prinsip pelayanan kepada masyarakat dalam rangka penyelenggaraan PAM BM. Pedoman ini dapat digunakan sebagai acuan bagi para pelaku terkait dalam pelaksanaan pembangunan prasarana dan sarana PAM BM yang mandiri dan berkelanjutan. |
35 |
|
258 |
Penyediaan air minum berbasis masyarakat (PAM BM) Volume 3. Kelembagaan |
Pd T-07-2005-C |
Pedoman ini meliputi peran dan fungsi para pelaku terkait, proses pembentukan organisasi/ kepengurusan dan perangkat pendukung yang diperlukan dalam organisasi penyediaan air minum berbasis masyarakat (PAM BM). Pedoman ini merupakan buku ketiga dari Pedoman penyediaan air minum berbasis masyarakat (PAM BM). |
31 |
|
259 |
Penyediaan air minum berbasis masyarakat (PAM BM) Volume 4. Pembiayaan |
Pd T-08-2005-C |
Pedoman ini memuat tata cara pembiayaan dalam kegiatan meliputi biaya penyelenggaraan dan mobilisasi dana penyediaan air minum berbasis masyarakat. |
35 |
|
260 |
Penyediaan air minum berbasis masyarakat (PAM BM) Volume 5. Pembangunan prasarana dan sarana |
Pd T-09-2005-C |
Pedoman ini ini meliputi tata cara pemilihan jenis, perencanaan, pelaksanaan fisik dan pengoperasian serta pemeliharaan prasarana dan sarana penyediaan air minum berbasis masyarakat. |
|
|
261 |
Penyediaan air minum berbasis masyarakat (PAM BM) Volume 6. Pelaksanaan pemantauan dan evaluasi |
Pd T-10-2005-C |
Pedoman ini meliputi sistem pemantauan dan evaluasi kinerja pada tahap persiapan, perencanaan, pembangunan, pengelolaan dan pengembangan PAM BM. Hasilnya dilaporkan pada perorangan atau institusi yang berkaitan dengan pengadaan/pelayanan air minum berbasis masyarakat. |
18 |
|
23. Air limbah |
|
|
|
|
|
262 |
Tata cara perencanaan dan pemasangan tangki biofolter pengolahan air limbah rumah tangga dengan tangki biofilter |
Pd T-04-2005-C |
Tata cara ini mencakup persyaratan, kriteria perencanaan dan cara pemasangan tangki biofilter pengolahan air limbah rumah tangga dengan menggunakan tangki biofilter kapasitas sampai 50 orang. |
18 |
|
24. Sanitasi & persampahan |
|
|
|
|
|
263 |
Spesifikasi kompos rumah tangga |
Pt S-06-2000-C |
Spesifikasi ini mencakup pengertian teknis menganai bentuk, ukuran, bahan, fungsi, dan kinerja dari komposter rumah tangga untuk melayani maksimum 5 orang. |
11 |
|
264 |
Spesifikasi area penimbunan sampah dengan sistem lahan urug terkendali di tpa sampah |
Pt S-07-2000-C |
Spesifikasi ini mencakup persyaratan teknis mengenai bentuk, ukuran, bahan/elemen/komponen, fungsi dan kekuatan dari area penimbunan sampah dengan sistem lahan urug terkendali, minimal pelayanan 5 tahun. |
12 |
|
265 |
Tata cara perencanaan cubluk kembar |
Pt T-19-2000-C |
Tata cara ini mencakup pengertian, persyaratan dan ketentuan teknis dalam pemilihan lokasi, bentuk, ukuran dan penempatan cubluk. |
23 |
|
266 |
Spesifikasi cubluk kembar |
Pt S-09-2000-C |
Spesifikasi ini mencakup : |
13 |
|
No. |
Judul Standar |
Nomor Standar |
Ruang Lingkup |
Hal |
|
|
|
|
1. pengertian, persyaratan teknis mengenai bentuk, ukuran, bahan, fungsi dan kekuatan dari cubluk kembar; 2. pemakaian meksimum 50 orang dengan waktu pengurasan minimum 2 tahun. |
|
|
267 |
Pengelolaan sampah dengan sistem daur ulang pada lingkungan |
Pt T-13-2002-C |
Petunjuk teknis ini meliputi aspek pemberdayaan masyarakat, ketentuan-ketentuan teknis pengomposan, pemasaran kompos, kelembagaan dan pendanaan usaha pengomposan. |
|
|
268 |
Pengelolaan air limbah non kakus (grey water) |
Pt T-16-2002-C |
Tata cara ini memuat persyaratan umum dan persyaratan teknis mengenai tata cara pengoperasian dan pemeliharaan instalasi pengolahan air limbah non kakus model hibrid yang berkapasitas 2 m3/hari atau cakupan pelayanan 4 KK (16 – 20 jiwa). |
11 |
|
269 |
Penerapan pengelolaan air limbah secara komunal pada kawasan penghijauan |
Pt T-17-2002-C |
Petunjuk teknis ini mencakup mekanisme pelaksanaan pengelolaan air limbah rumah tangga secara komunal pada kawasan permukiman dengan jumlah pelayanan 4 KK hingga 100 KK. |
13 |
|
270 |
Tata cara perencanaan tpa pasang surut |
Pt T-19-2002-C |
* Tata cara perencanaan bangunan TPA di Daerah Pasang Surut ini dimaksudkan sebagai pegangan atau acuan bagi perencana dan pelaksana dalam upaya pembangunan TPA sampah yang dikhususkan untuk daerah pasang surut. * Tata cara ini bertujuan untuk memberikan masukan dalam prosedur pelaksanaan pembangunan, sehingga dapat membantu upaya pelestarian lingkungan. |
23 |
|
271 |
Pemasyarakatan teknologi air bersih dan plp bidang ukm |
Pt T-02-2003-C |
Petunjuk teknis ini mencakup istilah dan definisi, persyaratan umum, persyaratan teknis, volume satuan kerja untuk : 1) saluran air hujan pracetak; 2) sumur resapan air hujan; 3) saringan air rumah tangga (sarut); 4) komposter rumah tangga. |
|
|
272 |
Tata cara pemasangan dan pengoperasian komposter individual dan komunal |
Pd T-15-2003 |
Tata cara ini meliputi pendahuluan dan persyaratan pemasangan dan pengoperasian komposter rumah tangga individual untuk melayani 1 (satu) keluarga (5- 7) dan komunal untuk melayani 10 keluarga (50-70 jiwa). |
|
|
273 |
Pengoperasian dan pemeliharaan instalasi pengolahan air limbah rumah tangga dengan tangki biofilter |
Pd T-02-2004-C |
Pedoman teknis ini memuat pengertian, persyaratan umum, pengoperasian, dan pemeliharaan instalasi pengolahan air limbah dengan menggunakan tangki biofilter. |
10 |
|
274 |
Spesifikasi sarana umum mandi, kakus prefab |
Pd S-02-2004-C |
Spesifikasi ini mencakup istilah dan definisi, persyaratan teknis mengenai bentuk, bahan dan konstruksi serta dimensi dari sarana umum mandi kakus prefab rangka besi/ baja dan kapsul. |
10 |
|
275 |
Tata cara perencanaan dan pemasangan tangki biofilter pengolahan air limbah rumah tangga dengan tangki biofilter |
Pd T-04-2005-C |
Tata cara ini mencakup persyaratan, kriteria perencanaan dan cara pemasangan tangki biofilter pengolahan air limbah rumah tangga dengan menggunakan tangki biofilter kapasitas sampai 50 orang. |
17 |
|
25. Dan lain-lain |
|
|
|
|
|
276 |
Spesifikasi bata dan ubin pejal tahan kimia |
RSNI S-04-2002 |
Spesifikasi ini mencakup bata dan ubin pejal yang cocok digunakan sebagai komponen konstruksi pasangan untuk bagian dalam dan luar bangunan yang akan terkena pengaruh zat kimia dan lingkungannya. |
8 |
Penutup
Sekian Penjelasan Singkat Mengenai DAFTAR PEDOMAN TEKNIS BAHAN KONSTRUKSI BANGUNAN DAN REKAYASA SIPIL. Semoga Bisa Menambah Pengetahuan Kita Semua.