Memuat Hari... 00:00:00

>_ MEMUAT HALAMAN...

Search Suggest

Batuan Conglomerate dan metamorphic

Baca Juga:

Kuarsit, salah satu jenis batuan metamorf

Pada kesempatan kali ini, mari kita bahas perbedaan antara batuan konglomerat, peridotit, siltstone, silty konglomerat dengan batuan metamorf sekis, filit, dan lainnya, beserta sifat mekanisnya:

Perbedaan Berdasarkan Jenis Batuan dan Pembentukannya:

  • Batuan Sedimen: Terbentuk dari sedimentasi dan litifikasi (pemadatan dan penyemenan) fragmen-fragmen batuan lain, mineral, atau material organik.

    • Konglomerat: Batuan sedimen klastik yang terdiri dari butiran-butiran kerakal (berdiameter >2 mm) yang membundar dan tersemen oleh matriks yang lebih halus (pasir, lanau, lempung) atau semen kimiawi (silika, karbonat, oksida besi).
    • Siltstone: Batuan sedimen klastik yang didominasi oleh butiran lanau (berdiameter 1/256 - 1/16 mm). Teksturnya lebih halus dari batupasir tetapi lebih kasar dari batulempung.
    • Silty Konglomerat: Batuan sedimen klastik yang merupakan campuran antara konglomerat (kerakal membundar) dan material berukuran lanau yang signifikan sebagai matriks atau lapisan di antaranya.
  • Batuan Beku: Terbentuk dari pembekuan dan kristalisasi magma (di bawah permukaan) atau lava (di atas permukaan).

    • Peridotit: Batuan beku ultramafik (sangat kaya magnesium dan besi, miskin silika) yang umumnya berasal dari mantel bumi. Mineral utama penyusunnya adalah olivin dan piroksen. Teksturnya kasar (faneritik).
  • Batuan Metamorf: Terbentuk dari batuan yang sudah ada sebelumnya (batuan sedimen, beku, atau metamorf lain) yang mengalami transformasi akibat tekanan dan/atau suhu tinggi.

    • Sekis (Schist): Batuan metamorf foliasi (memiliki penjajaran mineral pipih atau memanjang) dengan butiran mineral yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Mineral utama penyusunnya umumnya adalah mika (biotit dan/atau muskovit) yang memberikan kenampakan "mengkilap" dan mudah terbelah sepanjang bidang foliasi. Mineral lain seperti kuarsa, feldspar, dan garnet juga umum ditemukan.
    • Filit (Phyllite): Batuan metamorf foliasi yang merupakan transisi antara slate (batusabak) dan sekis. Ukuran butirnya lebih halus dari sekis, namun memiliki kilap yang lebih nyata dibandingkan slate karena perkembangan mineral mika yang lebih besar. Belahannya bergelombang dan permukaannya seringkali keriput.
    • Lainnya: Terdapat berbagai jenis batuan metamorf lain seperti gneis (foliasi dengan segregasi mineral menjadi pita-pita terang dan gelap), kuarsit (metamorfisme batupasir kuarsa), mermer (metamorfisme batugamping atau dolomit), slate (foliasi planar dengan butiran sangat halus), hornfels, dan lain-lain, yang masing-masing memiliki komposisi mineral dan tekstur yang berbeda tergantung pada batuan asalnya dan kondisi metamorfismenya.

Sifat Mekanis Batuan:

Sifat mekanis batuan sangat dipengaruhi oleh jenis mineral penyusun, ukuran butir, tekstur, porositas, kandungan air, dan keberadaan diskontinuitas (rekahan, bidang perlapisan). Secara umum:

  • Konglomerat dan Silty Konglomerat:

    • Kuat tekan bervariasi tergantung pada kekuatan semen dan kekompakan butiran. Bisa cukup kuat jika semennya kuat dan butirannya saling mengunci.
    • Kuat geser juga dipengaruhi oleh hal yang sama dan kekasaran permukaan butiran.
    • Permeabilitas relatif tinggi karena adanya pori-pori antar butiran, meskipun dapat berkurang jika matriksnya didominasi lanau.
    • Ketahanan terhadap pelapukan mekanik tergantung pada kekuatan semen dan ketahanan mineral penyusun kerakal.
  • Siltstone:

    • Kuat tekan umumnya lebih rendah dari batupasir dan konglomerat karena ukuran butirnya yang halus dan potensi kandungan lempung.
    • Mudah terbelah sepanjang bidang perlapisan.
    • Permeabilitas lebih rendah dari batupasir tetapi lebih tinggi dari batulempung.
    • Relatif lebih rentan terhadap erosi dan pelapukan dibandingkan batuan yang lebih kasar.
  • Peridotit:

    • Kuat tekan sangat tinggi karena komposisi mineralnya yang padat dan interlocking (olivine dan piroksen).
    • Keras dan tahan terhadap abrasi.
    • Permeabilitas umumnya rendah kecuali jika terdapat rekahan.
    • Kurang tahan terhadap pelapukan kimia karena mineral olivin mudah teralterasi menjadi serpentin.
  • Sekis:

    • Kuat tekan relatif rendah hingga sedang, sangat anisotropik (kekuatannya berbeda-beda tergantung arah gaya terhadap foliasi). Lemah jika gaya sejajar dengan bidang foliasi.
    • Mudah terbelah sepanjang bidang foliasi, sehingga memiliki kuat geser yang rendah pada bidang tersebut.
    • Permeabilitas umumnya rendah karena penjajaran mineral.
    • Ketahanan terhadap pelapukan tergantung pada jenis mineral penyusunnya. Mika relatif tahan, tetapi mineral lain bisa lebih rentan.
  • Filit:

    • Sifat mekanisnya berada di antara slate dan sekis.
    • Kuat tekan lebih rendah dari sekis.
    • Mudah terbelah sepanjang bidang foliasi yang bergelombang.
    • Permeabilitas rendah.
    • Ketahanan terhadap pelapukan mirip dengan sekis, tergantung komposisi mineral.
  • Batuan Metamorf Lainnya: Sifat mekanis batuan metamorf sangat bervariasi tergantung pada jenisnya. Contohnya:

    • Gneis: Lebih kuat dan kurang mudah terbelah dibandingkan sekis karena foliasinya berupa pita-pita mineral yang saling mengunci.
    • Kuarsit: Sangat kuat dan keras karena didominasi oleh kuarsa yang saling menyatu.
    • Mermer: Kuat tekannya bervariasi tergantung pada ukuran butir dan keberadaan rekahan. Relatif lunak dan mudah dipahat.

Singkatnya:

Perbedaan utama terletak pada asal pembentukan, komposisi mineral, dan tekstur. Batuan sedimen terbentuk dari pengendapan dan litifikasi, batuan beku dari pembekuan magma/lava, dan batuan metamorf dari transformasi batuan yang sudah ada akibat panas dan tekanan. Tekstur dan komposisi mineral inilah yang kemudian sangat menentukan sifat mekanis masing-masing jenis batuan. Batuan metamorf foliasi seperti sekis dan filit memiliki anisotropi kekuatan yang signifikan akibat penjajaran mineralnya, sementara batuan sedimen klastik seperti konglomerat dan siltstone kekuatannya dipengaruhi oleh semen dan ukuran butir. Batuan beku ultramafik seperti peridotit umumnya sangat kuat dan padat.

Batuan metamorf

Kuarsit, salah satu jenis batuan metamorf

Batuan metamorf atau batuan malihan[1] adalah salah satu kelompok utama batuan yang merupakan hasil transformasi atau ubahan dari suatu tipe batuan yang telah ada sebelumnya, protolith, oleh suatu proses yang disebut metamorfisme, yang berarti "perubahan bentuk".[2] Batuan asal atau protolith yang dikenai panas (lebih besar dari 150 °Celsius) dan tekanan ekstrem (1500 bar),[3] akan mengalami perubahan fisika dan/atau kimia yang besar. Protolith dapat berupa batuan sedimenbatuan beku, atau batuan metamorf lain yang lebih tua.

Batuan metamorf membentuk bagian yang cukup besar dari kerak bumi dan diklasifikasikan berdasarkan tekstur, selain juga oleh susunan mineral dan susunan kimianya (fasies metamorfik). Batuan jenis ini dapat terbentuk secara mudah akibat berada dalam kedalaman tinggi, mengalami suhu tinggi dan tekanan besar dari lapisan batuan di atasnya. Mereka dapat terbentuk dari proses tektonik seperti tabrakan benua, yang menyebabkan tekanan horisontal, gesekan dan distorsi. Mereka juga terbentuk ketika batuan terpanaskan oleh intrusi dari batuan cair dan panas yang disebut magma dari interior bumi. Studi tentang batuan metamorf ( yang sekarang tersingkap di permukaan bumi akibat erosi dan pengangkatan) memberikan informasi tentang suhu dan tekanan yang terjadi pada kedalaman yang besar dalam kerak bumi. Beberapa contoh batuan metamorf adalah slatefilitsekisgneis, dan lain-lain.

Mineral-mineral metamorfik

[sunting | sunting sumber]

Mineral metamorfik adalah mineral yang terbentuk hanya pada suhu dan tekanan tinggi terkait dengan proses metamorfosis. Mineral ini, yang dikenal sebagai mineral - mineral indeks, termasuk silimanitkyanitstaurolitandalusit, dan beberapa garnet.

Mineral lainnya, seperti olivinpiroksenampibolmikafeldspar, dan kuarsa dapat ditemukan dalam batuan metamorf, tetapi belum tentu merupakan hasil dari proses metamorfisme. Mineral ini terbentuk selama kristalisasi batuan beku. Mereka stabil pada suhu dan tekanan tinggi yang secara kimia tidak berubah ketika selama terjadinya proses metamorfisme. Namun, semua mineral stabil hanya dalam batas-batas tertentu, dan adanya beberapa mineral dalam batuan metamorf menunjukkan perkiraan suhu dan tekanan di mana mereka terbentuk.

Perubahan ukuran partikel batuan selama proses metamorfisme disebut rekristalisasi. Misalnya, kristal kalsit kecil pada batugamping berubah menjadi kristal yang lebih besar di marmer pada batuan metamorf, atau dalam batupasir yang termetamorfosis, rekristalisasi dari kuarsa asal butir-butir pasir menghasilkan kuarsit yang sangat kompak, atau biasa disebut dengan metakuarsit, di mana kristal kuarsa yang lebih besar biasanya saling bertautan. Baik suhu maupun tekanan yang tinggi berkontribusi terhadap rekristalisasi. Temperatur yang tinggi memungkinkan atom dan ion dalam kristal padat untuk bermigrasi, sehingga membentuk suatu susunan pada kristal, sementara tekanan tinggi menyebabkan pelarutan kristal dalam batuan di titik kontak mereka.

Foliasi

[sunting | sunting sumber]
Batuan metamorf ber-foliasi di Norwegia.

Perlapisan dalam batuan metamorf disebut foliasi (berasal dari kata Latin folia, yang berarti "daun"). Foliasi terbentuk ketika batuan memendek di salah satu sumbu pada rekristalisasi. Hal ini menyebabkan platy atau kristal yang memanjang dari mineral, seperti mika dan klorit, memutar agar sumbu panjang mereka tegak lurus terhadap orientasi sumbu yang memendek. Hal ini menghasilkan batuan yang berpita-pita, atau berfoliasi, dengan pita-pita yang menunjukkan warna mineral yang membentuk mereka.

Tekstur dipisahkan ke dalam kategori foliasi dan non foliasi. batuan ber-foliasi adalah produk stress diferential yang men-deformasi batuan dalam satu bidang, kadang-kadang menciptakan sebuah bidang belahan. Misalnya, batusabak adalah batuan metamorf berfoliasi, yang berasal dari serpih. Batuan non-foliasi tidak memiliki pola strain planar .

Batuan yang mengalami tekanan seragam dari semua sisi, atau mereka yang kekurangan mineral dengan kebiasaan pertumbuhan yang khas, tidak akan ber-foliasi. Di mana batuan telah dikenakan diferensial stress, jenis foliasi yang berkembang tergantung pada tingkatan metamorfisme (grade). Misalnya, dimulai dengan sebuah batulumpur, urutan berikut berkembang dengan meningkatnya suhu: batusabak adalah batuan metamorf yang sangat halus dan berfoliasi, yang merupakan karakteristik tingkat metamorfisme yang sangat rendah, sementara filit berbutir halus dan berada pada tingkatan metamorfisme rendah, sekis berbutir sedang hingga kasar dan ditemukan di daerah dengan tingkat metamorfisme sedang dan terakhir gneis berbutir kasar hingga sangat kasar, ditemukan di daerah dengan tingkat metamorfisme yang tinggi.[4] Marmer umumnya tidak berfoliasi,, yang memungkinkan penggunaannya sebagai bahan untuk patung dan arsitektur.

Mekanisme lain yang penting dari metamorfisme adalah bahwa reaksi kimia yang terjadi antara mineral terjadi tanpa mencairnya mereka. Dalam proses ini, atom dipertukarkan antara mineral, dan dengan demikian mineral baru terbentuk. Banyak reaksi suhu tinggi kompleks mungkin terjadi, dan masing-masing kumpulan mineral yang diproduksi memberikan kita petunjuk mengenai suhu dan tekanan pada saat terjadinya metamorfisme.

Metasomatisme adalah perubahan drastis komposisi kimia batuan yang sering terjadi selama proses metamorfisme. Hal ini terjadi karena pengenalan bahan kimia pada batuan dari batuan sekitarnya. Air dapat mengangkut bahan kimia ini dengan cepat melalui jarak yang jauh. Karena peran yang dimainkan oleh air, batuan metamorf umumnya mengandung banyak unsur yang awalnya tidak ada pada batuan asal, dan kekurangan beberapa unsur yang awalnya hadir. Namun, pengenalan bahan kimia baru tidak diperlukan pada rekristalisasi.

Tipe-tipe metamorfisme

[sunting | sunting sumber]

Batuan metamorf dapat dibedakan menjadi berikut ini:

Metamorfisme kontak

[sunting | sunting sumber]
Batuan metamorf tipe metamorfisme kontak yang terdiri dari lapisan-lapisan kalsit dan serpentinit, berumur pra-kambrian, Kanada.

Metamorfisme kontak adalah nama yang diberikan untuk perubahan yang terjadi ketika magma disuntikkan ke batuan padat di sekelilingnya (country rock). Perubahan ini merupakan perubahan terbesar di mana pun magma kontak dengan batuan karena suhu tertinggi terjadi pada batas ini dan menurun bila semakin jauh dengan kontak. Zona yang bermetamorfisme di sekitar batuan beku yang terbentuk dari pendinginan magma disebut aureole kontak metamorfisme. Aureole menunjukkan semua derajat metamorfisme dari area kontak hingga area non-metamorfisme (tidak berubah) pada country rock yang jauh dari area kontak. Pembentukan mineral bijih yang penting dapat terjadi oleh proses metasomatisme pada atau di dekat zona kontak.

Ketika batuan kontak terubah oleh intrusi beku, batuan terubah ini umumnya menjadi lebih keras dan memiliki kristalin kasar. Banyak batuan terubah dari metamorfisme kontak biasa disebut batutanduk (hornfels atau hornstone). Istilah ini sering digunakan oleh ahli geologi untuk menandakan mereka berbutir halus, kompak, dan merupakan produk non-foliasi dari metamorfisme kontak. Sebuah serpih bisa menjadi batutanduk berlempung gelap (argillaceous hornfels), penuh dengan lempeng - lempeng biotit kecoklatan; sebuah napal atau batugamping tidak murni dapat berubah menjadi batutanduk-silikat-gampingan atau marmer silikaan berwarna abu-abu, kuning atau kehijauan. Sebuah diabas atau andesit dapat berubah menjadi batutanduk diabas atau batutanduk andesit dengan pengembangan hornblende dan biotit baru dan rekristalisasi parsial dari feldspar asal. Rijang atau batuapi mungkin dapat berubah menjadi batuan kristalin kuarsa yang halus; Batupasir yang kehilangan struktur klastik dan diubah menjadi mosaik butiran kecil kuarsa yang saling berdekatan dalam batuan metamorf disebut kuarsit.

Jika batuan pada awalnya ber-foliasi atau ber-pita - pita(seperti misalnya batupasir dengan tekstur laminasi ) karakter ini tidak dapat dilenyapkan, dan batutanduk ber-foliasi dihasilkan; fosil bahkan mungkin akan terawetkan dalam batuan metamorf, meskipun sepenuhnya direkristalisasi, dan dalam banyak lava kontak-terubah, vesikula masih dapat terlihat, meskipun kandungannya biasanya merupakan kombinasi baru dan membentuk mineral yang awalnya tidak hadir.

Akibat rekristalisasi dengan cara ini batuan aneh dengan jenis yang sangat berbeda sering diproduksi. Jadi serpih mungkin bisa berubah menjadi batuan - batuan kordierit, atau mungkin menunjukkan kristal - kristal besar andalusit (dan chiastolit), staurolitgarnetkyanit dan sillimanit, semua berasal dari isi alumina dari serpih asal. Sejumlah besar mika (baik muskovit dan biotit) sering bersamaan terbentuk, dan produk yang dihasilkan memiliki kemiripan dekat dengan banyak jenis sekis. Batugamping, jika murni, sering berubah menjadi marmer - marmer kristalin kasar; tetapi jika ada campuran dari lempung atau pasir di batuan asal maka mineral - mineral seperti garnet, epidotidokras,dan wollastonit akan hadir. Batupasir ketika dipanaskan sangat mungkin berubah menjadi kuarsit yang terdiri dari butir - butir kasar kuarsa yang jelas. Tahap - tahap pengubahan intens ini tidak begitu sering terlihat di batuan beku, karena mineral mereka, yang terbentuk pada suhu tinggi, tidak begitu mudah berubah atau direkristalisasi.

Dalam beberapa kasus, batuan-batuan menyatu dan spinelsillimanit dan kordierit dapat terpisahkan. Serpih kadang-kadang terubah oleh dike basalt, dan batupasir feldspatik dapat sepenuhnya mengalami vitrifikasi. Perubahan serupa dapat dirangsang di serpih dengan pembakaran seam batubara atau bahkan oleh tungku biasa.

Ada juga kecenderungan untuk metasomatisme antara magma beku dan batuan sedimen, dimana bahan kimia di setiap batuan dipertukarkan atau diperkenalkan ke yang lain. Granit dapat menyerap fragmen serpih atau potongan basal. Dalam hal ini, batuan hybrid yang disebut skarn muncul, yang tidak memiliki karakteristik normal batuan beku atau sedimen. Kadang-kadang intrusi magma menembus bebatuan sekitar, mengisi kekar - kekar dan bidang perlapisan, dengan sejumlah kuarsa dan feldspar. Hal ini sangat jarang terjadi namun kemungkinan keterjadiannya ada dan dalam skala besar.[5]

Metamorfisme regional

[sunting | sunting sumber]
Singkapan marmer di Amerika Serikat

Metamorfisme regional, juga dikenal sebagai metamorfisme dinamik, adalah nama yang diberikan untuk perubahan yang terjadi pada massa besar batuan di wilayah yang luas. Batuan dapat bermetamorfosis hanya dengan berada di kedalaman besar di bawah permukaan bumi, mengalami suhu tinggi dan mengalami tekanan yang besar disebabkan oleh berat yang sangat besar dari lapisan batuan di atasnya. Sebagian besar kerak benua bagian bawah adalah batuan metamorf, selain juga ada intrusi batuan beku yang baru terbentuk. Pergerakan tektonik horizontal seperti tumbukan benua menghasilkan sabuk orogenik, menyebabkan tingginya suhu, tekanan, dan deformasi di batuan sepanjang sabuk tersebut. Jika batuan metamorf yang terbentuk kemudian terangkat dan tersingkap akibat erosi, mereka dapat tersingkap di dalam sabuk panjang tersebut atau daerah besar lainnya di permukaan. Proses metamorfosis mungkin telah menghancurkan fitur asli yang bisa mengungkapkan sejarah batuan sebelumnya. Rekristalisasi batuan akan menghancurkan tekstur dan fosil yang hadir dalam batuan sedimen. Metasomatisme akan mengubah komposisi asli.

Metamorfisme regional atau metamorfisme dinamik

Metamorfisme regional cenderung membuat batuan lebih keras dan pada saat yang sama menyebabkan terbentuknya tekstur foliasi, skistos, atau gneis, yang terdiri dari susunan planar mineral, sehingga menyebkan mineral - mineral lempeng atau prismatik seperti mika dan hornblende memiliki sumbu - sumbu terpanjang yang sejajar satu sama lain. Itulah sebabnya banyak dari batuan ini berlapis - lapis dalam satu arah sepanjang sepanjang zona-zona bantalan mika (mica-bearing zone pada sekis). Dalam gneis, mineral juga cenderung dipisahkan dalam bentuk pita - pita; sehingga ada perselingan kuarsa dan mika pada sekis mika, sangat tipis, tetapi pada dasarnya tiap lapisan atau pita terdiri dari satu mineral. Sepanjang lapisan mineral yang terdiri dari serpih-serpih, batuan akan mudah terpecah. Selain itu, gneis juga mengandung lebih banyak feldspar daripada sekis, dan lebih keras serta kurang menyerpih. Pita - pita skistos dan gneis (dua jenis utama foliasi) terbentuk oleh tekanan terarah pada suhu tinggi, dan gerakan interstitial atau aliran internal menyusun partikel - partikel mineral ketika mereka mengkristal dalam bidang tekanan terarah tersebut.

Batuan asal batuan sedimen dan batuan beku dapat bermetamorfosis menjadi sekis dan gneis. Komposisi batuan asal semakin sulit dibedakan apabila derajat metamorfisme semakin tinggi. Sebuah kuarsa-porfiri dan batupasir feldspatik dapat bermetamorfosis menjadi mika-sekis abu-abu atau merah muda.[5]

Metamorfisme kataklastik

[sunting | sunting sumber]

Metamorfisme kataklastik terjadi sebagai akibat dari deformasi mekanis, seperti ketika dua tubuh batuan bergeser melewati satu sama lain sepanjang zona sesar. Gesekan di sepanjang zona geser menghasilkan panas, dan batuan terdeformasi secara mekanik. Batuan tersebut hancur dan tertumbuk akibat pergeseran tersebut. Metamorfisme kataklastik tidak umum terjadi terbatas di zona sempit dimana sesar mendatar terjadi.

Metamorfisme hidrotermal

[sunting | sunting sumber]

Batuan yang terubah pada suhu tinggi dan tekanan sedang akibat cairan hidrotermal disebut mengalami metamorfisme hidrotermal. Hal ini biasa terjadi dalam batuan basaltik yang umumnya kekurangan mineral - mineral hidrat. Metamorfisme hidrotermal menyebabkan alterasi menjadi mineral - mineral hidrat kaya Mg - Fe seperti talkkloritserpentinaktinolittremolitzeolit, dan mineral lempung. Endapan kaya bijih sering terbentuk akibat metamorfisme hidrotermal.

Metamorfisme tindihan

[sunting | sunting sumber]

Ketika batuan sedimen terkubur sampai kedalaman beberapa ratus meter, suhu yang lebih besar dari 300oC dapat berkembang tanpa adanya stres diferensial. Mineral baru tumbuh, tetapi batuan tidak tampak bermetamorfosis. Mineral utama yang dihasilkan biasanya adalah Zeolit. Metamorfosis tindihan tumpang tindih dengan diagenesis sampai batas tertentu, dan metamorfisme ini dapat berubah menjadi metamorfisme regional seiring meningkatnya suhu dan tekanan.

Metamorfisme dampak (impact metamorphism/shock metamorphism)

[sunting | sunting sumber]

Ketika material luar bumi, seperti meteorit atau komet jatuh ke bumi Bumi atau jika ada ledakan gunung berapi yang sangat besar, tekanan sangat tinggi dapat terjadi pada batuan - batuan yang terkena dampak. Tekanan-tekanan yang sangat tinggi dapat menghasilkan mineral yang hanya stabil pada tekanan yang sangat tinggi, seperti polimorf SiO2 seperti koesit dan stishofit. Selain itu mereka dapat menghasilkan tekstur yang dikenal sebagai shock lamellae di butiran mineral, dan tekstur seperti kerucut pecah di batuan yang berdampak.

Berbagai Jenis Batuan

Marmer

Ketika batu kapur, batuan sedimen, terkubur dalam di dalam bumi selama jutaan tahun, panas dan tekanan dapat mengubahnya menjadi batuan metamorf yang disebut marmer. Marmer kuat dan dapat dipoles hingga berkilau indah. Marmer banyak digunakan untuk bangunan dan patung. Seperti yang dapat Anda lihat pada gambar, marmer memiliki kilau yang sangat berkilau. Marmer hadir dalam berbagai warna seperti putih, merah muda, abu-abu, merah, kuning, atau hitam. 
 

Basal

Basalt adalah batuan vulkanik hitam yang keras. Basalt adalah jenis batuan yang paling umum di kerak bumi. 
Bergantung pada bagaimana batuan tersebut meletus, basalt bisa keras dan masif (Gambar 1) atau rapuh dan penuh gelembung (Gambar 2).
 
Gambar 1.
 
 
Gambar 2.
 

Batu tulis

Batu tulis adalah batuan metamorf yang terbentuk ketika serpih dan tanah liat mengalami tekanan besar dan dipanaskan di dalam bumi selama jutaan tahun. Seperti serpih, batu tulis terpecah menjadi lembaran-lembaran, yang berarti memiliki belahan yang baik. Batu tulis biasanya berwarna abu-abu atau hitam dan digunakan untuk membuat papan tulis dan genteng.

 

Batu kapur

Batu kapur adalah batuan sedimen. Batu kapur terbentuk dari lapisan-lapisan potongan batu kecil dan batu-batuan yang ditekan dengan kuat satu sama lain. Batu kapur terbentuk di daerah basah yang berarti batu kapur juga mengandung cangkang dan bahan buangan dari organisme yang hidup di air. Gua batu kapur terbentuk ketika air hujan merembes melalui celah-celah batu kapur dan melarutkannya. Batu kapur berubah menjadi marmer batuan metamorf ketika terkena tekanan dan panas yang tinggi.

 
 
 Pemanfaatan batu kapur
Batu kapur penting untuk membuat semen. Batu kapur
digunakan dalam pembuatan kaca. 
Lapisan batu kapur yang dihancurkan ditempatkan di bawah jalan dan di bawah rel kereta api. 
Batu kapur membantu membersihkan air minum dan mengolah limbah. 
Pupuk yang digunakan oleh petani mengandung batu kapur yang digiling. Batu kapur merupakan makanan bagi tanaman dan baik untuk tanah.
Pakan ternak juga mengandung sejumlah batu kapur.

Gneiss

Gneis merupakan jenis batuan metamorf yang terbentuk ketika batuan sedimen atau batuan beku terpapar suhu dan tekanan ekstrem. Ketika hal ini terjadi, hampir tidak ada jejak batuan asli yang tersisa. Batuan gneis dicirikan oleh susunan mineralnya dalam pita-pita panjang.  Gneis memiliki keistimewaan di antara batuan lain yang memiliki pita-pita karena mineral-mineralnya tidak terdistribusi secara merata sehingga pita-pita tersebut memiliki lebar yang bervariasi.
 
 
 
 Kegunaan:
Gneis juga telah digunakan untuk membangun bangunan dan batu nisan.

Konglomerat

Batuan konglomerat adalah jenis batuan sedimen. Batuan ini  terdiri dari pecahan-pecahan batu besar dan bulat yang terkandung dalam matriks sedimen berbutir lebih kecil. Pecahan-pecahan besar, yang dikenal sebagai  klast , dapat memiliki berbagai ukuran, tetapi semuanya harus berdiameter lebih dari dua milimeter agar batuan tersebut dapat diklasifikasikan sebagai konglomerat.
 
 

Kegunaan Konglomerat

Meskipun menarik untuk dilihat, konglomerat bukanlah jenis batuan yang paling berguna di dunia. Batu ini tidak memiliki daya tarik seperti granit atau kekuatan seperti batu tulis. Namun, batu ini memiliki satu fungsi yang sangat baik - menjadi dirinya sendiri. Ingatkah Anda betapa miripnya batu ini dengan jalan masuk dari agregat beton? Nah, konglomerat sebenarnya dapat digunakan dalam pembuatan beton. 


Serpih

Batuan serpih adalah batuan yang terbuat dari partikel seukuran tanah liat dan memiliki tampilan berlapis. Batuan ini merupakan jenis batuan sedimen. Serpih adalah batuan yang banyak ditemukan di Bumi. Batuan ini biasanya ditemukan di daerah perairan yang tenang yang telah mengendapkan sedimen yang kemudian memadat.  Serpih biasanya terbentuk dalam bentuk lembaran.  Tanah liat merupakan komponen utama dalam batuan serpih.  Setelah terbentuk, serpih biasanya diendapkan ke danau dan sungai oleh air yang mengalir lambat.  Serpih yang terkena panas dan tekanan ekstrem dapat berubah menjadi batu tulis.
 
 

Batu pasir

Batu pasir merupakan jenis batuan sedimen.  Batu ini terbentuk ketika butiran pasir memadat bersama-sama dalam jangka waktu yang sangat lama. Biasanya pasir ini mengandung banyak kuarsa tetapi dapat juga mengandung mineral dan material lainnya. Batu pasir hadir dalam berbagai warna termasuk merah, kuning, abu-abu, dan cokelat.  Batu pasir dapat terbentuk di bawah laut atau di daratan.

 
 Penggunaan
Batu pasir telah digunakan untuk membangun gedung, patung, dan air mancur.

Granit

Granit  adalah batuan beku yang sebagian besar terdiri dari dua mineral: kuarsa dan feldspar. Granit adalah  batuan intrusif  , artinya ia mengkristal dari magma yang mendingin jauh di bawah permukaan bumi. Granit biasanya memiliki tekstur kasar (mineral-mineral individual terlihat tanpa pembesaran), karena magma mendingin perlahan di bawah tanah, memungkinkan pertumbuhan kristal yang lebih besar.  Granit  adalah batuan beku yang paling umum.
 
Penggunaan
Granit digunakan dalam konstruksi, untuk segala hal mulai dari bangunan dasar hingga meja dapur yang dipoles indah. 

Batu Obsidian

Batu obsidian  adalah batuan beku yang terbentuk ketika lava mendingin dengan cepat di atas tanah. Hasilnya adalah batuan yang mendingin begitu cepat, sehingga kristal tidak sempat terbentuk. Obsidian adalah kaca vulkanik dengan struktur halus dan seragam.  Obsidian hanya dapat terbentuk di dekat gunung berapi yang aktif.
 
 
 
 Penggunaan
Obsidian umumnya digunakan selama prosedur pembedahan karena seringkali lebih tajam daripada peralatan bedah tradisional.
Obsidian digunakan sebagai batu permata dalam perhiasan. 

Batu apung

Batu apung adalah  batuan beku ekstrusif  yang terbentuk akibat letusan gunung berapi.  Ekstrusif  berarti terbentuk di luar gunung berapi (berbeda dengan di dalam gunung berapi di ruang magma), dan akibatnya, magma mendingin dengan cepat setelah keluar dari gunung berapi. Kantong-kantong udara kecil dapat terlihat di dalamnya. Batu ini sangat ringan, sehingga banyak batu apung yang benar-benar dapat mengapung di air. Batu apung sebenarnya adalah sejenis kaca dan bukan campuran mineral.  

 
 
 Penggunaan
Batu ini cukup sering digunakan sebagai batu lanskap dekoratif. Digiling menjadi bubuk, batu ini digunakan sebagai bahan abrasif dalam senyawa poles dan sabun.

Sekis

Sekis adalah batuan metamorf yang mengandung serpihan mika. Sekis dapat berasal dari batuan sedimen atau batuan beku.  Kristal-kristal besar menyebabkan batuan sekis memantulkan banyak cahaya yang membuatnya tampak sangat berkilau.   Batu ini terbuat dari mineral lempung.
 
 

Penutup

Sekian Penjelasan Singkat Mengenai Batuan Conglomerate dan metamorphic. Semoga Bisa Menambah Pengetahuan Kita Semua.

Posting Komentar

pengaturan flash sale

gambar flash sale

gambar flash sale